Potongan video Saiful Mujani, pendiri SMRC, sedang jadi perbincangan hangat di berbagai platform media sosial. Isinya? Pernyataannya soal perlunya "menjatuhkan" Presiden terpilih, Prabowo Subianto. Banyak yang langsung mencapnya sebagai ujaran makar.
Dalam video yang beredar luas itu, suara Saiful terdengar jelas. Ia berbicara di sebuah forum.
"Saya alternatifnya bukan prosedur formal seperti impeachment, itu tidak akan jalan. Yang jalan cuma satu: bisa nggak kita mengkonsolidasikan diri untuk menjatuhkan Prabowo? Cuma itu. Kalau menasehati Prabowo nggak bisa juga, bisanya cuma dijatuhkan. Itulah yang menyelamatkan bukan menyelamatkan Prabowo, tapi menyelamatkan diri kita dan bangsa ini,"
Ucapan itu, seperti diduga, memantik reaksi keras. Salah satunya datang dari Fahri Hamzah, Wakil Ketua Umum Partai Gelora yang juga menjabat Wakil Menteri.
Fahri menilai pernyataan Saiful Mujani sangat berbahaya. Menurutnya, hal semacam itu bisa dengan mudah tergelincir ke ranah inkonstitusional.
Ia menyampaikan pandangannya usai menghadiri rapat terbatas dengan Presiden Prabowo di Istana, Senin (6/4).
"Kita harus bicara dalam konsep demokrasi konstitusional. Jangan kasih izin dan ruang untuk tindakan inkonstitusional. Sebab itu nanti berbahaya,"
Fahri melanjutkan, wujud tindakan di luar konstitusi memang beragam. Namun begitu, ia menekankan bahwa situasi saat ini, baik di dalam negeri maupun global, justru menuntut persatuan. Bukan sebaliknya.
"Kalau semua orang mengizinkan tindakan inkonstitusional, ya repot. Negara kita dalam kondisi begini, dunia lagi kacau, kita justru perlu kesepahaman. Harusnya kita bicara dalam wadah konstitusional,"
Dalam sistem kita, Presiden bukan satu-satunya pemegang kendali. Masih ada cabang kekuasaan lain yang bisa dimintai pertanggungjawaban. Itu poin yang coba ditegaskan Fahri. Baginya, ini soal tanggung jawab kolektif.
Ia juga menyelipkan pesan untuk para aktivis yang telah berjuang membangun demokrasi.
"Setengah mati kita membangun demokrasi. Kalau kita mengizinkan kekacauan kembali, ya nanti repot lagi. Tolong introspeksi jugalah,"
Di akhir pernyataannya, Fahri mencoba melihat niat baik dari berbagai kebijakan yang digulirkan. Dunia, katanya, sedang tidak mengizinkan kita untuk berbuat macam-macam. Semua harus kompak.
"Apalagi kalau bicara Pak Prabowo, kan niatnya baik. Semua ini untuk masyarakat. Kalau ada kebijakan penghematan, ya kita sesuaikan. Memang faktanya ada kebocoran di mana-mana yang perlu dibenahi. Niatnya kan baik semua,"
Begitulah. Debat publik pun terus bergulir, antara kebebasan berpendapat dan batasan konstitusional yang kerap samar. Suasana politik memang kembali memanas.
Artikel Terkait
DPR Soroti Dugaan Pemalsuan Riset WNI di Konferensi Internasional Denmark, Kemendiktisaintek Lakukan Pendalaman
Bobby/Melati Tumbang di Singapore Open 2026 Usai Dua Kesalahan Krusial di Momen Kritis
Fadli Zon: Iduladha Momen Perkuat Solidaritas Sosial dan Kepedulian Sesama
Pengamat: Pemadaman Listrik Sumatra Bukan Hanya Terjadi di Indonesia, Perlu Penguatan Sistem