Di tengah gejolak harga global, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung berusaha menenangkan situasi. Ia memastikan harga sejumlah kebutuhan pokok di ibu kota masih dalam batas aman. Kenaikan harga plastik yang terjadi di beberapa daerah, disebutnya sebagai imbas dari situasi di Timur Tengah, tak lantas membuat Jakarta gonjang-ganjing.
“Di Jakarta sampai dengan hari ini kami memantau harian, inflasinya masih terjaga dengan baik,” tegas Pramono.
Ia menambahkan, warga tak perlu melakukan panic buying. Menurutnya, stok barang-barang utama masih lebih dari cukup. Pernyataan itu disampaikannya saat menghadiri Groundbreaking Pasar Gardu Asem, Kemayoran, pada Senin (6/4/2026).
Namun begitu, gambaran di daerah lain ternyata berbeda. Sebagai contoh, Pasar Pucang Anom di Surabaya mencatatkan lonjakan penjualan plastik yang fantastis: hingga 40%. Kenaikan itu terjadi sejak lebaran Idulfitri di akhir Maret lalu.
Lantas, apa pemicunya? Semuanya berawal dari ketegangan di Timur Tengah. Harga minyak Brent sempat menembus lebih dari US$100 per barel. Gangguan logistik internasional khususnya yang melalui Selat Hormuz langsung berimbas ke Asia. Ditambah lagi, harga bahan baku yang melambung tinggi ikut memperkeruh keadaan.
Ambil contoh polypropylene, komoditas kunci untuk plastik. Harganya melonjak drastis, mencapai 250% sejak awal tahun. Lonjakan semacam ini bukan main-main dampaknya. Industri yang bergantung pada bahan baku plastik tertekan, dan ancaman PHK pun mengintai.
Artikel Terkait
Prabowo Minta Kampus Bantu Daerah Tata Ruang dan Kaji Masalah Perumahan
Rajiah Sallsabillah Kejar Tiket Terakhir ke Asian Games di Kejuaraan Panjat Tebing Asia
Fahri Hamzah Kritik Pernyataan Saiful Mujani Soal Menjatuhkan Prabowo
Kebun Binatang Ragunan Perluas Jam Operasional Wisata Malam ke Hari Kerja