Ketua Umum Asosiasi Produsen Plastik Hilir Indonesia (Aphindo), Henry Chevalier, membenarkan tekanan itu sangat nyata. Gangguan pasokan, jika berlanjut, akan semakin membebani industri hilir.
“Ada beberapa yang mungkin mereka sudah mengarah ke sana [PHK], tapi, karena mereka masih punya modal, kita coba survive dulu ya,” ujar Henry saat dihubungi pada Minggu (5/4/2026).
“Namun, arah ke sana [PHK] itu sudah ada. Beberapa industri kita yang menggunakan bahan baku plastik sudah mengarah ke situ,” lanjutnya.
Persoalan mendasarnya adalah ketergantungan impor yang masih besar. Kapasitas industri petrokimia dalam negeri, menurut Henry, hanya bisa memenuhi sekitar separuh hingga 60% kebutuhan nasional. Sisanya, sekitar 40-50%, masih harus didatangkan dari luar utamanya dari Timur Tengah dan China.
Dampaknya sudah merembet ke tingkat konsumen biasa. Aphindo mencatat, kenaikan harga bahan baku plastik mulai terasa di pasar. Henry mengingatkan, situasi ini berpotensi memicu inflasi yang lebih luas. Apalagi, daya beli masyarakat saat ini juga sedang tidak kuat-kuatnya.
Jadi, di satu sisi pemerintah daerah menyatakan situasi terkendali. Di sisi lain, data dari lapangan dan pelaku industri justru menunjukkan gelombang kesulitan yang nyata. Kenaikan harga plastik ini mungkin hanya gejala awal dari sebuah masalah rantai pasok yang jauh lebih rumit.
Artikel Terkait
Prabowo Minta Kampus Bantu Daerah Tata Ruang dan Kaji Masalah Perumahan
Rajiah Sallsabillah Kejar Tiket Terakhir ke Asian Games di Kejuaraan Panjat Tebing Asia
Fahri Hamzah Kritik Pernyataan Saiful Mujani Soal Menjatuhkan Prabowo
Kebun Binatang Ragunan Perluas Jam Operasional Wisata Malam ke Hari Kerja