22 WNI Tiba di Tanah Air Usai Jalani Evakuasi dari Iran yang Dihantui Ledakan

- Selasa, 10 Maret 2026 | 23:25 WIB
22 WNI Tiba di Tanah Air Usai Jalani Evakuasi dari Iran yang Dihantui Ledakan

Pulang dari Iran, Kisah Mencekam dan Rasa Syukur 22 WNI

Suasana lega jelas terpancar di Bandara Soekarno-Hatta, Selasa (10/3/2026) lalu. Sebanyak 22 Warga Negara Indonesia akhirnya menginjakkan kaki kembali di tanah air setelah menjalani proses evakuasi dari Iran. Mereka membawa cerita-cerita yang tak mudah, tentang perjalanan panjang yang diawali dengan situasi mencekam di Teheran.

Zulfan, salah satu di antara mereka, masih bisa menceritakan kronologinya dengan detail. Semua berawal dari surat undangan yang dia terima dari KBRI Teheran pada Rabu (4/3). Surat itu memintanya segera mengisi formulir jika ingin pulang. "Proses awalnya cepat," kenangnya. "Dari 32 orang yang mengisi, langsung diberangkatkan."

Namun begitu, perjalanan mereka baru benar-benar dimulai pada Jumat (6/3) dini hari. Mereka berangkat dari KBRI Teheran saat subuh menyingsing.

Perjalanan darat menuju perbatasan Iran-Azerbaijan di Astara makan waktu sekitar sembilan jam. Tapi, bukan jarak yang menjadi tantangan terberat. "Yang bikin lama justru lima jam antre di imigrasi perbatasan," ujar Zulfan. Beruntung, setelah sampai di Baku, Azerbaijan, prosesnya lebih lancar. Hanya satu jam, lalu mereka langsung diantar ke hotel untuk beristirahat.

Tapi, momen paling mencekam justru terjadi sebelum mereka meninggalkan Teheran. Saat berkumpul di KBRI, suasana tiba-tiba berubah menegangkan.

"Ada sepuluh bom, lewat di atas gedung kedutaan. Ledakannya keras sekali, sampai-sampai kaca-kaca di sini bergetar hebat," jelas Zulfan, menggambarkan situasi saat itu. Rasa panik sempat muncul. Mereka hampir saja berlindung ke basement, namun menurut penjelasan Duta Besar, mereka diminta menunggu dulu.

Editor: Novita Rachma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar