“Prediksi intensitas El Niño saat ini berada pada kategori lemah hingga moderat dengan peluang 50–80, serta kemungkinan kecil (kurang dari 20) menjadi kuat,”
jelas Ardhasena.
Namun begitu, ada satu tantangan dalam memprediksi cuaca. Ardhasena mengingatkan soal fenomena spring predictability barrier. Intinya, akurasi prediksi iklim cenderung menurun pada periode Maret-Mei. Pada bulan-bulan ini, prediksi yang bisa diandalkan biasanya hanya untuk tiga bulan ke depan. Baru nanti pada Mei 2026, tingkat kepercayaan prediksi akan membaik dan bisa memproyeksikan kondisi hingga enam bulan ke depan dengan lebih akurat.
Dengan semua faktor itu, gambaran untuk musim kemarau tahun ini tampaknya tidak terlalu cerah. BMKG menegaskan, kemarau 2026 kemungkinan akan lebih kering dan lebih panjang dibanding kondisi rata-rata. Penyebabnya adalah gabungan dari variabilitas iklim alami dan potensi kembalinya El Niño tadi.
“Meskipun intensitasnya masih berkembang, kemarau 2026 diprediksi lebih kering dan lebih panjang dari biasanya,”
pungkas Ardhasena. Pesannya jelas: masyarakat perlu bersiap dari sekarang.
Artikel Terkait
Uji Coba Aturan Truk ODOL: 49.003 Kendaraan Ditindak, Mayoritas Masih Dapat Peringatan
Lurah Pasar Rebo Dipanggil Inspektorat DKI Diduga Gunakan Foto AI Tanggapi Laporan Warga
BPBD DKI Peringatkan Potensi Banjir Rob di Pesisir Jakarta Hingga 9 April
Tim JK Laporkan Rismon Sianipar dan Sejumlah Media ke Bareskrim Soal Tudingan Pendanaan Roy Suryo