PDIP Garisbawahi Fondasi Politik: Budaya, Sejarah, dan Cita-Cita

- Minggu, 23 November 2025 | 00:25 WIB
PDIP Garisbawahi Fondasi Politik: Budaya, Sejarah, dan Cita-Cita
PDIP Tegaskan Tiga Pilar Politik

PDIP Kukuhkan Tiga Pilar Politik di Riau

Rapat besar PDIP digelar di Pekanbaru, Sabtu lalu. Dalam Konferensi Daerah dan Konferensi Cabang yang berlangsung serentak itu, Sekjen DPP Hasto Kristiyanto tampil dengan pesan yang jelas. Ia menegaskan komitmen partainya untuk membangun basis politik yang kokoh, yang tak hanya mengandalkan kekuatan elektoral sesaat.

Caranya? Melalui tiga pilar utama. Penguatan akar budaya, penanaman keteladanan sejarah, dan perumusan cita-cita masa depan. Tiga hal ini, menurutnya, adalah fondasi.

Acara itu sendiri terasa istimewa dengan kehadiran tokoh adat setempat, Ketua Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Datuk Seri H. Taufik Ikram Jamil. Hasto pun secara khusus menyambutnya, seraya mengingatkan pesan Bung Karno.

"Kehadiran Ketua LAMR karena Bung Karno mengingatkan, Indonesia yang berkepribadian dalam kebudayaan. Dalam jati diri kebudayaan itulah kita membangun karakter bangsa," kata Hasto.

Ia lantas menyinggung soal sumbangsih kultural Riau yang dinilainya fundamental bagi persatuan nasional. Di sinilah peran sentral budaya Melayu, menurutnya, menjadi jembatan pemersatu jauh sebelum Indonesia merdeka, tepatnya pada momen Sumpah Pemuda 1928.

Fakta menarik ia kemukakan. Meskipun jumlah penutur bahasa Jawa, Sunda, atau Batak jauh lebih besar, para pemuda saat itu justru memilih suatu tradisi kebudayaan yang bisa mempersatukan.

"Mengapa Bahasa Indonesia yang akarnya Melayu? Maka, banggalah bahasa ini sungguh-sungguh telah menyatukan kita," ujarnya.

Beranjak ke pilar kedua, Hasto menyampaikan keprihatinan yang dalam. Banyak anak bangsa, katanya, lupa sejarah. Penyebabnya? Pendidikan politik yang ahistoris, yang memutuskan mata rantai dengan masa lalu.

Ia pun mengajak kadernya untuk meneladani pengorbanan sejati. Contoh yang ia angkat adalah kisah Sultan Syarif Kasim II dari Kesultanan Siak.

"Beliau mempersembahkan kedaulatannya, mahkotanya, pedangnya, dan dana sebesar 13 juta Gulden dipersembahkan bagi Republik yang baru berdiri. Beliau tidak bertanya mau jadi apa, dan akhirnya beliau lebih memilih menjadi rakyat biasa," tuturnya.

Tak hanya itu, ia juga menyoroti sosok Bung Karno yang mendirikan Partai Nasional Indonesia di usia yang sangat muda, 26 tahun. Prinsip non-kooperasi melawan kolonialisme terbesar di dunia kala itu menjadi pilihan yang berani.

Untuk menguji mental para kader, Hasto membacakan sebuah surat mengharukan. Surat itu dari kader PNI di Ciamis yang akan digantung oleh Belanda. Isinya gambaran pengorbanan total demi kemerdekaan.

"Bayangkan, sebelum digantung, mereka berkirim surat kepada Bung Karno yang isinya menyatakan pergi ke tiang gantungan dengan hati gembira karena yakin Bung Karno akan melanjutkan peperangan," ujarnya, menggambarkan betapa dalam keyakinan mereka.

Di akhir pidatonya, Hasto menegaskan kembali pesan moral dari Ketua Umum Megawati Soekarnoputri. Pesannya jelas: PDIP harus fokus membangun peradaban politik yang berbasis pada pengorbanan dan ideologi. Bukan sekadar mengejar kekuasaan yang bersifat transaksional.

"Menjadi banteng-banteng PDI Perjuangan tidak ditentukan oleh jabatannya apa, tetapi ditentukan oleh apa yang bisa kita berikan kepada rakyat Indonesia," pungkasnya tegas.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar