Beranjak ke pilar kedua, Hasto menyampaikan keprihatinan yang dalam. Banyak anak bangsa, katanya, lupa sejarah. Penyebabnya? Pendidikan politik yang ahistoris, yang memutuskan mata rantai dengan masa lalu.
Ia pun mengajak kadernya untuk meneladani pengorbanan sejati. Contoh yang ia angkat adalah kisah Sultan Syarif Kasim II dari Kesultanan Siak.
Tak hanya itu, ia juga menyoroti sosok Bung Karno yang mendirikan Partai Nasional Indonesia di usia yang sangat muda, 26 tahun. Prinsip non-kooperasi melawan kolonialisme terbesar di dunia kala itu menjadi pilihan yang berani.
Untuk menguji mental para kader, Hasto membacakan sebuah surat mengharukan. Surat itu dari kader PNI di Ciamis yang akan digantung oleh Belanda. Isinya gambaran pengorbanan total demi kemerdekaan.
Di akhir pidatonya, Hasto menegaskan kembali pesan moral dari Ketua Umum Megawati Soekarnoputri. Pesannya jelas: PDIP harus fokus membangun peradaban politik yang berbasis pada pengorbanan dan ideologi. Bukan sekadar mengejar kekuasaan yang bersifat transaksional.
Artikel Terkait
Laporan Ungkap Aliran Dana Terduga Teroris Lewat Binance, Pegawai Penyelidik Malah Diberhentikan
Tren Bukber Ramadan di Makassar Beralih ke Restoran dengan Konsep Estetik
Sidang Praperadilan Yaqut Ditunda, KPK Absen di Persidangan Perdana
Pantai Akkarena Makassar: Destinasi Favorit Warga dengan Pemandangan Senja Memikat