Harga plastik melonjak. Penyebabnya? Gangguan pasokan bahan baku akibat konflik di Timur Tengah. Padahal, kebutuhan kita akan plastik masih sangat tinggi, dan sayangnya, Indonesia masih bergantung pada impor untuk memenuhinya.
Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal April 2026 ini cukup jelas menggambarkan ketergantungan itu. Nilai impor plastik dan barang plastik kita pada Februari lalu mencapai angka fantastis: US$ 873,2 juta atau sekitar Rp 14,78 triliun. Angka itu mengalir dari berbagai negara.
China masih menjadi pemasok utama dengan nilai US$ 380,1 juta. Posisi berikutnya diisi Thailand (US$ 82,7 juta) dan Korea Selatan (US$ 66,7 juta). Namun, yang menarik perhatian adalah impor dari Amerika Serikat dan Arab Saudi, yang masing-masing menyumbang US$ 29,9 juta dan US$ 14,9 juta. Belum lagi pemasok lain seperti Vietnam, Jepang, hingga Malaysia.
Lalu, bagaimana dampaknya di lapangan? Rasanya para pedagang di pasar tradisional yang paling merasakan getahnya.
Pedagang Pasar Menjerit!
Reynaldi Sarijowan dari Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya. Menurutnya, kenaikan harga plastik sudah mencapai level yang mengkhawatirkan, bahkan menyentuh 50%.
"Kami pantau sudah cukup lama. Saat masuk Ramadan saja harganya sudah mulai naik. Puncaknya sekarang, kenaikannya bisa sampai 50%," ujar Reynaldi.
Ia memberi contoh nyata. Plastik kresek yang biasa dibeli Rp 10.000 per pack, kini melambung jadi Rp 15.000. Jenis plastik lain juga ikut merangkak naik, dari Rp 20.000 menjadi Rp 25.000.
Artikel Terkait
Pemprov DKI Turunkan Baliho Film Aku Harus Mati Usai Keluhan Warga
Gubernur DKI: Mayoritas Siswa Korban Keracunan di Pondok Kelapa Sudah Dipulangkan
Gubernur DKI Yakinkan Stok Pokok Aman Meski Harga Plastik Tertekan Konflik Timur Tengah
BMKG: 49 Wilayah Sudah Masuki Musim Kemarau, Puncaknya Diprediksi Agustus 2026