Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Plastik, Pedagang Pasar Keluhkan Kenaikan 50%

- Senin, 06 April 2026 | 08:15 WIB
Konflik Timur Tengah Picu Lonjakan Harga Plastik, Pedagang Pasar Keluhkan Kenaikan 50%

"Ini risikonya kalau kita masih tergantung impor. Dampak perang di Timur Tengah terasa serius di dalam negeri, dan kenaikan harganya sangat signifikan," imbuhnya.

Reynaldi menyebut para pedagang, terutama ibu-ibu, sudah mulai "teriak". Kenaikan biaya kemasan ini berpotensi besar mendorong harga jual barang dagangan mereka ikut naik.

"Emak-emak yang pakai plastik untuk dagangan tentu sudah teriak-teriak. Ini bisa bikin harga di pasaran ikut merangkak naik," tuturnya.

Memang, akar masalahnya ada pada minyak bumi. Sebagian besar plastik, seperti polyethylene (PE) dan polypropylene, adalah produk turunannya. Perang tidak hanya mendongkrak harga minyak, tapi juga mengacaukan rantai pasok global.

Kawasan Timur Tengah, yang jadi pemasok utama bahan baku plastik dunia, sedang bergejolak. Data S&P Global Energy menyebut kawasan ini menyumbang sekitar seperempat ekspor polyethylene dan polypropylene global. Konflik otomatis mengganggu semua itu.

Harrison Jacoby, seorang direktur di Independent Commodity Intelligence Services, memperkuat analisis ini.

"Sekitar 84% kapasitas polyethylene Timur Tengah bergantung pada Selat Hormuz untuk ekspor via laut," katanya.

Jadi, jeritan para pedagang pasar itu bukan tanpa alasan. Ia adalah gema dari sebuah ketergantungan yang dampaknya merambat jauh, dari konflik global hingga ke lapak-lapak di pasar tradisional kita.

Editor: Melati Kusuma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar