Nah, di sisi lain, petani juga harus gigit jari. Soalnya, biaya konsumsi dan produksi ikut-ikutan naik. Beberapa komoditas seperti daging ayam ras, bensin, sampai cumi-cumi harganya merangkak. Inflasi pangan, terutama untuk hortikultura dan tanaman pangan, juga punya pengaruh kuat terhadap fluktuasi NTP ini.
Kalau kita lihat lebih luas, Nilai Tukar Usaha Pertanian (NTUP) juga ikut merangkak naik. Angkanya mencapai 152,82 di Maret, atau naik 0,28 persen. Sektor hortikultura jadi penyumbang kenaikan tertinggi dengan pertumbuhan 4,31 persen, disusul peternakan yang tumbuh 3,62 persen. Lumayan, kan?
Tapi jangan senang dulu. Di balik tren positif itu, ada satu subsektor yang masih merintih: perkebunan rakyat. Subsektor ini justru mengalami penurunan indeks sebesar 0,13 persen. Biaya produksi yang melonjak 0,44 persen jadi biang keladinya, terutama gara-gara harga pupuk macam Urea dan TSP yang terus membumbung tinggi. Beban pekebun pun bertambah.
Jadi, gambaran besarnya gimana? Tren kenaikan NTP ini memang bikin hati sedikit lega karena mencerminkan daya beli petani yang membaik. Namun begitu, di lapangan, tantangan kenaikan biaya produksi tetap menjadi bayang-bayang yang menghantui. Perbaikan ada, tapi perjuangan mereka di sawah dan ladang belum usai.
Penulis: Mia
Editor: Redaktur TVRINews
Artikel Terkait
Kemenparekraf Sediakan Kanal Pengaduan, Respons Maksimal Tujuh Hari Kerja
KPK Periksa Sejumlah Biro Haji Pekan Depan Terkait Kasus Korupsi Kuota
Marinir Sampaikan Prihatin atas Insiden Peluru Nyasar Lukai Dua Anak di Gresik
Pemerintah Dorong Pembentukan Dinas Ekonomi Kreatif di 80-an Daerah