“Kita telah melihat Iran membajak jalur pelayaran internasional untuk menyandera ekonomi global,” ucap Cooper lagi, mempertegas sikapnya.
Di sisi lain, dari Paris datang suara yang agak berbeda. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Prancis punya catatan penting: pengamanan Selat Hormuz baru mungkin dilakukan setelah fase intensif pemboman benar-benar berakhir. Ada prasyarat yang harus dipenuhi dulu.
Pernyataan itu sejalan dengan apa yang diungkapkan Presiden Emmanuel Macron. Saat berkunjung ke Korea Selatan, ia dengan tegas menyebut opsi operasi militer untuk membebaskan selat itu sebagai hal yang “tidak realistis”. Macron juga tak bisa menyembunyikan kekecewaannya pada pernyataan mantan Presiden AS Donald Trump yang dinilainya plin-plan soal perang Iran dan NATO.
“Ada pihak yang menganjurkan pembebasan Selat Hormuz dengan paksa melalui operasi militer, posisi yang terkadang diungkapkan oleh Amerika Serikat,” kata Macron.
“Saya katakan terkadang karena hal itu bervariasi. Itu bukanlah pilihan yang pernah kami pilih dan kami menganggapnya tidak realistis,” tegasnya.
Jadi, meski keresahan sama, langkah yang diusung tampaknya belum sepenuhnya seiring. Tekanan diplomatik digenjot, tapi opsi militer dianggap bukan jalan keluar. Semuanya masih bergantung pada dinamika di lapangan dan kesepakatan yang sulit diraih.
Artikel Terkait
Lalu Lintas Kereta di Lintas Maswati-Sasaksaat Kembali Normal Usai Longsor
Pria Pacaran 3 Tahun Cekik Wanita hingga Tewas di Sawah Sragen
Bulog Pastikan Stok Beras Nasional Aman Capai 4,38 Juta Ton
Trump Pecat Jaksa Agung Pam Bondi, Gantikan dengan Mantan Pengacara Pribadi