Tak cuma inflasi umum, kelompok inti pun menunjukkan tren yang menggembirakan. Inflasi inti pada Maret tercatat hanya 0,13 persen secara bulanan. Angka ini jauh lebih rendah dibanding bulan sebelumnya yang mencapai 0,42 persen. Naiknya harga komoditas seperti daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras disebut-sebut jadi penyumbang utama, didorong oleh lonjakan permintaan saat momen Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Idul Fitri.
Ramdan juga menyinggung soal prospek ke depan.
Di sisi lain, ada sedikit tekanan dari kelompok administered prices. Kelompok ini mencatat inflasi 0,31 persen di Maret, berbalik dari deflasi tipis 0,03 persen di bulan sebelumnya. Kenaikan harga bensin nonsubsidi dan tarif angkutan antarkota, seiring penyesuaian harga dan mobilitas masyarakat selama libur Idul Fitri, menjadi pemicunya.
Meski begitu, secara tahunan, inflasi administered prices sebesar 6,08 persen ini sudah jauh lebih rendah. Bulan sebelumnya, angkanya masih mencapai 12,66 persen. Jadi, meski ada tekanan di beberapa titik, gambaran besarnya tetap menunjukkan pengendalian yang cukup solid. Bank Indonesia tampaknya masih punya banyak ruang untuk bernapas lega.
Artikel Terkait
Marinir Sampaikan Prihatin atas Insiden Peluru Nyasar Lukai Dua Anak di Gresik
Pemerintah Dorong Pembentukan Dinas Ekonomi Kreatif di 80-an Daerah
Uji Coba Sistem Bayar Tol MLFF Segera Dimulai, BPJT Pastikan Persiapan Matang
Lalu Lintas Kereta di Lintas Maswati-Sasaksaat Kembali Normal Usai Longsor