Uji Coba MLFF Segera Digulirkan, Pemerintah Janji Persiapan Matang
Jakarta - Sistem bayar tol tanpa henti dan tanpa sentuh, atau yang dikenal sebagai Multi Lane Free Flow (MLFF), bakal diuji coba lagi. Kabar ini datang langsung dari pejabat terkait, setelah sebelumnya sempat terhenti cukup lama. Rencananya, uji coba kali ini akan jauh lebih komprehensif.
Wilan Oktavian, sang Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), mengakui proyek ini memang sempat mandek. "Pelaksanaannya mengalami stagnasi," ujarnya. Namun, angin segar datang dari rekomendasi Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) di akhir tahun lalu. Mereka menyarankan BPJT untuk melanjutkan atau mengulang uji coba sistem tersebut.
"Hal ini karena sebelumnya terdapat dua klaim yang berbeda, di mana dari BPJT atau BUJT menyatakan bahwa sistem belum berhasil, sementara dari Roatex menyatakan bahwa sistem tersebut sudah berhasil,"
Demikian penjelasan Wilan saat silaturahmi Menteri PU dengan awak media di Jakarta, Kamis lalu. Perbedaan klaim itulah yang kemudian mendorong rencana uji coba ulang secara end-to-end. Artinya, semua proses akan diuji habis: mulai dari pengguna mengunduh aplikasi, pemakaian di jalan, sampai dana pembayaran benar-benar cair ke rekening Badan Usaha Jalan Tol.
Nah, untuk menuju ke sana, beberapa tahapan sudah disepakati. Yang pertama adalah pra-uji coba, yang rencananya digelar dalam waktu dekat. Roatex, sebagai vendor, punya tugas menyiapkan Term of Reference (TOR)-nya. Persiapan sudah berjalan, lho. Awal Maret lalu, tepatnya tanggal 3 sampai 5, sudah dilakukan functional test perdana.
"Functional test itu lebih ke mencoba demonstrasi fitur aplikasi yang ada di CANTAS dan lebih ke positif skenario," jelas Wilan.
Tapi itu belum selesai. Masih ada functional test tahap dua yang segera dilakukan. Tujuannya jelas: memastikan infrastruktur jalan tol yang akan dipakai benar-benar siap. Kalau semua sudah oke, barulah pra-uji coba menyeluruh bisa dimulai. Soal waktu? Pemerintah tampaknya tak mau berlama-lama.
"Untuk target waktu pelaksanaannya, prinsipnya adalah semakin cepat semakin baik atau the sooner the better,"
Begitu kata Wilan menegaskan. Proyek MLFF sendiri bukan barang baru. Usianya sudah sepuluh tahun, dicanangkan sejak kunjungan Perdana Menteri Hungaria, Victor Orban, ke Indonesia pada 2016. Penggarapnya adalah perusahaan teknologi asal Hungaria, Roatex Ltd., lewat anak usahanya di sini. Yang menarik, pendanaan penuh proyek senilai 300 juta dolar AS atau sekitar Rp 4,65 triliun ini bersumber dari pemerintah Hungaria. Sekarang, tinggal menunggu eksekusinya di lapangan.
Artikel Terkait
Polairud Polda Metro Jaya Tebar 165.000 Benih Ikan Bandeng dan Udang Vaname di Muaragembong untuk Dukung Ketahanan Pangan
Pancasila di Era Algoritma: Tantangan Menjaga Persatuan di Ruang Digital Kampus
Guru Besar Hukum UI Nilai Unsur Pidana Tak Terpenuhi, Terdakwa Korupsi Minyak Seharusnya Bebas
Brasil Bersaing Jadi Pusat Tambang Mineral Tanah Jarang Global, Permintaan Ikat Kunci Era AI dan Energi Hijau