Kebakaran SPBE di Bekasi Diduga Akibat Kebocoran Gas, 7 Orang Luka dan 19 Rumah Rusak

- Kamis, 02 April 2026 | 11:25 WIB
Kebakaran SPBE di Bekasi Diduga Akibat Kebocoran Gas, 7 Orang Luka dan 19 Rumah Rusak

Api yang sempat membakar hebat sebuah stasiun pengisian elpiji di Cimuning, Bekasi, akhirnya berhasil dipadamkan dini hari tadi. Meski begitu, suasana mencekam masih terasa di lokasi. Garis polisi kuning membentang, mengisolasi area yang hangus terbakar.

Dari pantauan di lokasi pagi ini, gerbang SPBE berwarna biru itu tertutup rapat. Di baliknya, pemandangan suram terlihat jelas: bangunan menghitam dan pepohonan yang mengering jadi saksi bisu hebatnya kobaran api semalam. Bau hangus masih menusuk hidung, sisa-sisa asap tipis pun sempat terlihat merayap dari ruko-ruko di sekitarnya.

Nah, ruko-ruko itulah yang ikut menjadi korban. Kondisinya berantakan, dari bagian dalam hingga atapnya. Material bangunan yang runtuh bahkan berserakan hingga ke badan jalan. Tak heran, kejadian ini bikin warga penasaran dan ramai berkerumun, yang otomatis memperlambat arus lalu lintas di sekitar Jalan Cinyosog, Bantargebang itu.

Meski api sudah padam, kewaspadaan tetap tinggi. Beberapa petugas damkar masih standby di tempat, bersiap mengantisipasi kemungkinan api muncul kembali.

Kebakaran ini sendiri pertama kali dilaporkan terjadi Rabu malam, tepatnya pukul 21.08 WIB. Butuh waktu berjam-jam bagi petugas untuk sepenuhnya mengendalikan situasi, dengan api baru benar-benar padam sekitar pukul 03.45 WIB dini hari.

Plt Kadis Damkar Kota Bekasi, Heryanto, punya dugaan awal soal pemicunya.

"Diduga sementara dari kebocoran gas dari tabung utama," ujarnya kepada awak media, Kamis pagi.

Menurut Heryanto, insiden tragis ini menelan korban. Tercatat tujuh orang mengalami luka-luka dan sudah dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat perawatan. Bukan cuma itu, jilatan api juga melalap puluhan rumah warga di sekitarnya.

"(Sebanyak) 15 rumah tinggal (RT 02 RW 003), 4 rumah tinggal, 2 kios (RT 01 RW 003)," jelasnya merinci dampak kerusakan yang terjadi.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar