Trump Pertimbangkan AS Keluar dari NATO, Sebut Aliansi Macan di Atas Kertas

- Rabu, 01 April 2026 | 21:30 WIB
Trump Pertimbangkan AS Keluar dari NATO, Sebut Aliansi Macan di Atas Kertas

Donald Trump kembali mengguncang panggung politik internasional. Kali ini, Presiden AS itu menyatakan sedang mempertimbangkan untuk menarik negaranya dari NATO. Isu ini bukan hal baru dari mulutnya, tapi kali ini nada yang digunakan terasa lebih serius. Hal ini ia sampaikan dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Inggris, Telegraph. Menurutnya, aliansi pertahanan Atlantik Utara itu cuma "macan di atas kertas" belaka.

"Presiden Putin juga tahu itu," ujar Trump, seperti yang dilaporkan Reuters, Rabu (1/4).

Latar belakang kemarahannya jelas: ia merasa ditinggalkan sekutu. Pemicunya adalah perang melawan Iran. AS membutuhkan bantuan untuk membuka kembali Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak yang ditutup oleh Iran sebagai balasan atas serangan AS dan Israel. Tapi, anggota NATO lainnya enggan mengerahkan aset militer mereka untuk membantu.

Pada Selasa (31/3), Trump sudah melontarkan kritik pedas. Ia menyuruh negara-negara yang kesulitan bahan bakar jet karena penutupan selat itu untuk "mengumpulkan keberanian mereka" dan mengambil sendiri minyaknya.

"Kalian harus mulai belajar bagaimana berjuang untuk diri sendiri, AS tidak akan ada lagi untuk membantu kalian, sama seperti kalian tidak ada untuk kami," tulisnya di Truth Social.

Namun begitu, sikap Trump ini membingungkan banyak pihak. NATO kan dibangun di atas prinsip pertahanan kolektif. Pasal 5 perjanjiannya jelas: serangan terhadap satu anggota dianggap serangan terhadap semua. Pasal itu pernah diaktifkan sekali, pasca serangan 11 September 2001. Buktinya, lebih dari 1.100 tentara non-AS tewas di Afghanistan setelah sekutu bergabung dengan perang AS.

Tapi Trump rupanya punya keraguan mendalam. Ia mempertanyakan apakah sekutu akan benar-benar membantu AS jika dibutuhkan. Skeptisisme ini terus ia suarakan sejak perang dengan Iran pecah akhir Februari lalu.

"Saya tidak melakukan upaya besar, hanya berkata, ‘Hei,’ Anda tahu, saya tidak terlalu memaksa. Saya hanya berpikir itu seharusnya otomatis," katanya kepada Telegraph.

Ia lalu membandingkannya dengan situasi di Ukraina. "Ukraina bukanlah masalah kami. Itu adalah ujian, dan kami ada di sana untuk mereka... Mereka tidak ada di sana untuk kami," ucap Trump. Padahal, faktanya, AS belum mengesahkan paket bantuan militer baru untuk Ukraina sejak era Joe Biden.

Dalam serangan verbal terbarunya, Trump secara khusus menyasar Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. Starmer awalnya menolak permintaan Trump untuk menggunakan pangkalan militer Inggris dalam operasi ofensif ke Iran, yang ia anggap ilegal. Inggris baru bergabung dalam pertahanan setelah aset militernya sendiri diserang balik.

Trump bahkan tak segan mengejek kemampuan militer Inggris. “Kalian tidak memiliki angkatan laut. Kalian terlalu tua dan memiliki kapal induk yang tidak berfungsi," sindirnya.

Menanggapi hal itu, Starmer bersikap tenang. Ia menekankan bahwa NATO tetaplah "aliansi militer paling efektif yang pernah ada di dunia." Dengan tegas, ia juga mengulangi bahwa Inggris tidak akan "terlibat" dalam perang dengan Iran.

Jadi, situasinya masih panas. Komentar Trump bukan sekadar omongan biasa; ini adalah tekanan langsung ke jantung aliansi yang telah menjadi pilar keamanan Eropa selama puluhan tahun. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Itu pertanyaan yang membuat banyak pemimpin dunia mungkin sulit tidur.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar