"Saya tidak melakukan upaya besar, hanya berkata, ‘Hei,’ Anda tahu, saya tidak terlalu memaksa. Saya hanya berpikir itu seharusnya otomatis," katanya kepada Telegraph.
Ia lalu membandingkannya dengan situasi di Ukraina. "Ukraina bukanlah masalah kami. Itu adalah ujian, dan kami ada di sana untuk mereka... Mereka tidak ada di sana untuk kami," ucap Trump. Padahal, faktanya, AS belum mengesahkan paket bantuan militer baru untuk Ukraina sejak era Joe Biden.
Dalam serangan verbal terbarunya, Trump secara khusus menyasar Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. Starmer awalnya menolak permintaan Trump untuk menggunakan pangkalan militer Inggris dalam operasi ofensif ke Iran, yang ia anggap ilegal. Inggris baru bergabung dalam pertahanan setelah aset militernya sendiri diserang balik.
Trump bahkan tak segan mengejek kemampuan militer Inggris. “Kalian tidak memiliki angkatan laut. Kalian terlalu tua dan memiliki kapal induk yang tidak berfungsi," sindirnya.
Menanggapi hal itu, Starmer bersikap tenang. Ia menekankan bahwa NATO tetaplah "aliansi militer paling efektif yang pernah ada di dunia." Dengan tegas, ia juga mengulangi bahwa Inggris tidak akan "terlibat" dalam perang dengan Iran.
Jadi, situasinya masih panas. Komentar Trump bukan sekadar omongan biasa; ini adalah tekanan langsung ke jantung aliansi yang telah menjadi pilar keamanan Eropa selama puluhan tahun. Apa yang akan terjadi selanjutnya? Itu pertanyaan yang membuat banyak pemimpin dunia mungkin sulit tidur.
Artikel Terkait
Gattuso Mundur dari Kursi Pelatih Italia Usai Gagal ke Piala Dunia 2026
Putin Siap Turun Tangan Redakan Ketegangan AS-Iran, Peringatkan Dampak Global
BMKG Catat 111 Kali Gempa Guncang Jawa Barat Sepanjang Maret
Pertamina Tambah Pasokan Elpiji Subsidi Jelang Libur Panjang di Madiun Raya