Lebih lanjut, Dar mengungkapkan bahwa para menteri luar negeri dari Pakistan, Arab Saudi, Mesir, dan Turki telah sepakat membentuk sebuah komite. Komite beranggotakan empat pejabat senior ini akan merumuskan teknis pelaksanaan mediasi melalui konsensus bersama.
Sementara itu, dari Washington, Presiden AS Donald Trump terdorong oleh upaya diplomatik ini. Ia menyebut pembicaraan tidak langsung melalui ‘utusan’ Pakistan menunjukkan kemajuan. Trump berpendapat kesepakatan bisa dicapai dengan cepat.
Tapi pernyataannya yang lain justru kontradiktif. Trump mengungkapkan keinginan untuk mengambil alih minyak Iran, mirip dengan langkah AS di Venezuela. Pernyataan ini muncul bersamaan dengan peningkatan pengerahan militer AS di Timur Tengah.
Pentagon dikabarkan mengirim ribuan pasukan tambahan. Mereka juga membahas berbagai skenario operasi, termasuk target di Pulau Kharg dan Selat Hormuz titik-titik vital bagi ekonomi dan keamanan Iran.
Ketegangan ini berakar dari serangan AS dan Israel terhadap Iran akhir Februari lalu, yang menewaskan banyak orang, termasuk pemimpin tertinggi mereka saat itu. Iran pun membalas. Serangan balasan dengan drone dan rudal itu menyasar beberapa negara, menimbulkan korban jiwa, kerusakan, dan mengacaukan pasar global.
Situasinya rumit. Di satu sisi, ada jalan diplomasi yang mulai dirintis. Di sisi lain, persiapan militer dan retorika keras justru semakin mengeras. Nasib kawasan kini tergantung pada ketulusan semua pihak yang terlibat.
Artikel Terkait
1 April: Harsiarnas, Hari Bank Dunia, dan Lupus Alert Day di Balik April Mop
Rembesan Air Keras di Mata Korban Penyiraman Baru Terdeteksi, Ancaman Kebutaan Permanen
Prabowo Sampaikan Apresiasi dan Komitmen Perkuat Hubungan dengan Jepang
Sidang Korupsi Proyek Satelit Kemenhan 2012-2021 Dimulai, Satu Terdakwa Buron