Bau menusuk yang berasal dari gunungan sampah di Pasar Induk Kramat Jati bukan lagi sekadar gangguan. Itu sudah jadi mimpi buruk bagi para pedagang. Pembeli sepi, omzet pun merosot drastis.
Hanif, salah seorang pedagang di sana, mengeluh dengan nada kesal. Menurutnya, aroma busuk itu membuat calon pembeli ogah parkir di area sekitar tumpukan.
Ia memperkirakan pendapatannya anjlok sampai 40 persen. Parahnya, kondisi ini bukan hal baru. Tumpukan sampah yang tak kunjung diangkut itu sudah menggunung sejak empat atau lima bulan terakhir.
Sebenarnya, seharusnya pengangkutan dilakukan minimal tiga kali seminggu. Namun belakangan, armada pengangkut seperti menghilang. Akibatnya, sampah menumpuk jadi pemandangan sehari-hari.
Artikel Terkait
Kemendikdasmen Revitalisasi 389 SMK dan Salurkan Ribuan Papan Digital di Kawasan Timur
Pemerintah Iran Akui Hak Demo Mahasiswa, Tentukan Garis Merah yang Tak Boleh Dilanggar
DPR Desak Pemerintah Buka Data Komitmen Impor Beras dari AS
Lapangan Padel di Cilandak Ditutup Sementara Imbas Protes Warga Soal Kebisingan