Bau menusuk yang berasal dari gunungan sampah di Pasar Induk Kramat Jati bukan lagi sekadar gangguan. Itu sudah jadi mimpi buruk bagi para pedagang. Pembeli sepi, omzet pun merosot drastis.
Hanif, salah seorang pedagang di sana, mengeluh dengan nada kesal. Menurutnya, aroma busuk itu membuat calon pembeli ogah parkir di area sekitar tumpukan.
"Mengganggu banget. Aromanya itu lho, sampai ke mana-mana. Pembeli pada milih parkir jauh di depan. Ya jelas sepi dong dagangan kami," ujarnya saat ditemui Jumat lalu.
Ia memperkirakan pendapatannya anjlok sampai 40 persen. Parahnya, kondisi ini bukan hal baru. Tumpukan sampah yang tak kunjung diangkut itu sudah menggunung sejak empat atau lima bulan terakhir.
"Dari sebelum lebaran kemarin sudah begini. Empat bulan, lima bulanan mungkin. Numpuk terus, enggak pernah dibersihin tuntas," keluh Hanif.
Sebenarnya, seharusnya pengangkutan dilakukan minimal tiga kali seminggu. Namun belakangan, armada pengangkut seperti menghilang. Akibatnya, sampah menumpuk jadi pemandangan sehari-hari.
Dampaknya tidak hanya pada kantong. Kesehatan para pedagang juga jadi taruhan. Batuk-batuk dan sesak napas mulai sering dikeluhkan. Masker pun jadi andalan, meski kadang tak cukup menahan bau yang tercium menyengat.
"Kita yang tiap hari di sini ya kerasa. Napas jadi susah, kadang pusing. Kemarin sempat pakai masker, tapi pas sampahnya dikeruk, baunya malah makin kuat berhamburan," tuturnya.
Di tengah situasi yang serba salah ini, harapan Hanif sederhana saja. Ia ingin sampah segera diangkut dan pasar kembali ramai seperti sedia kala.
"Ya semoga cepat ditangani. Biar pembeli nyaman dan kami bisa berdagang dengan tenang lagi," pungkasnya.
Masalah ini masih menunggu solusi. Sementara itu, para pedagang harus bertahan di antara tumpukan barang dagangan dan gunungan sampah yang baunya mengganggu.
Artikel Terkait
Pemerintah Tegaskan Tiga Lahan di Tanah Abang Aset Negara untuk Perumahan Rakyat
Presiden Lebanon Tegaskan Negara Bukan Lagi Arena Perang Setelah Gencatan Senjata
Jadwal Salat dan Imsakiyah DKI Jakarta untuk Sabtu, 18 April 2026
Napi Koruptor Rp233 Miliar Terlihat Ngopi di Kafe, Ditjenpas Periksa Petugas Rutan