Sekolah di Sumatra Kembali Normal Pascabanjir Berkat Kolaborasi Pemerintah

- Sabtu, 28 Maret 2026 | 13:00 WIB
Sekolah di Sumatra Kembali Normal Pascabanjir Berkat Kolaborasi Pemerintah

Setelah diterjang banjir yang melanda sejumlah wilayah Sumatra akhir tahun lalu, suasana belajar di sekolah-sekolah terdampak perlahan mulai kembali normal. Ya, pembelajaran tatap muka sudah berjalan lagi. Padahal, hanya beberapa bulan sebelumnya, para siswa itu masih harus menimba ilmu di dalam tenda-tenda darurat.

Perkembangannya cukup positif, harus diakui. Kunci utamanya? Kerja sama. Pemerintah pusat dan daerah bergandengan tangan dengan pihak sekolah untuk memulihkan kegiatan belajar. Dukungannya beragam, mulai dari perbaikan infrastruktur, penyediaan fasilitas sementara, sampai pendampingan untuk guru dan murid.

Menurut sejumlah saksi di lapangan, satuan pendidikan di sana menunjukkan kelincahan yang mengagumkan dalam beradaptasi. Mereka tak menunggu lama. Segera disiapkan ruang belajar darurat, kurikulum pun disesuaikan dengan kondisi, semua demi satu hal: hak belajar anak-anak harus tetap terjamin.

Hayati, Kepala UPTD SD Negeri 158498 Aek Tolang di Sumatra Utara, membenarkan hal itu. Sekolahnya sudah kembali beraktivitas normal sejak Januari lalu.

“Kami sempat pakai tenda darurat pada Desember 2025. Tapi sejak Januari 2026, semua sudah berjalan seperti biasa di dalam sekolah,” ujarnya, Sabtu (28/3/2026).

Di sisi lain, metode belajarnya sendiri juga sudah disesuaikan. Sekolah mereka menerapkan kurikulum mandiri yang lebih adaptif. Asesmen untuk siswa dilakukan dengan cara yang sederhana, fleksibel, mengikuti panduan teknis dari Kemendikdasmen untuk sekolah korban bencana.

Dukungan pemerintah, menurut Hayati, sangat terasa. Bantuan datang dalam bentuk tunai untuk kebersihan sekolah dan kebutuhan murid, seperti seragam.

Tak cuma itu. SDN tersebut juga mendapat program revitalisasi yang mencakup pembangunan dua kelas baru, toilet, plus penataan lingkungan. Semua itu jelas memperkuat pondasi untuk pembelajaran jangka panjang.

Cerita serupa datang dari Sumatra Barat. Di SMAN 1 Batang Anai, kegiatan belajar juga terus berdenyut meski situasi pascabencana belum sepenuhnya pulih.

Zulbaidah, sang Kepala Sekolah, menjelaskan bahwa saat ini ada 10 rombongan belajar yang menempati Asrama Haji Kabupaten Padang Pariaman. Sebagian lainnya masih belajar di tenda darurat bantuan Kemendikdasmen.

“Kami terpaksa menyesuaikan,” ungkap Zulbaidah. Durasi belajar dipangkas, fokus dialihkan ke materi-materi esensial saja. Pedomannya adalah buku panduan dari Pusat Kurikulum dan Pembelajaran Kemendikdasmen.

Kesiapan ini tentu bukan muncul tiba-tiba. Dukungan beruntun dari pemerintah pusat dan daerah sangat krusial. Bantuan beragam, dari dana normalisasi, bantuan untuk siswa, layanan trauma healing, hingga penyediaan tenda darurat. Pemerintah daerah juga turun tangan dengan mengerahkan alat berat dari BNPB untuk normalisasi dan memfasilitasi lokasi belajar sementara.

Gogot Suharwoto, Dirjen PAUD Dikdasmen, menegaskan komitmen pemerintah. Baginya, hak belajar anak adalah hal yang tak bisa ditawar, dalam kondisi apapun.

“Pendidikan tidak boleh berhenti, bahkan dalam situasi bencana sekalipun. Pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan bergerak cepat memastikan anak-anak kita tetap belajar dengan aman, nyaman, dan bermakna. Melalui kolaborasi ini, kita tidak hanya memulihkan fasilitas, tetapi juga memulihkan harapan dan semangat belajar peserta didik,” tegas Gogot.

Pada akhirnya, upaya kolektif inilah yang menjadi penopang. Kolaborasi antara berbagai pihak memastikan layanan pendidikan tetap hidup di tengah kesulitan, menjaga agar api semangat belajar para siswa tak pernah padam.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar