Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memastikan persoalan tata ruang di area trotoar yang sempat menjadi sorotan publik kini telah menemukan titik terang. Permasalahan ini mengemuka setelah beberapa waktu lalu ia membagikan momen penertiban pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Pasar Cicadas, Kota Bandung, yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Keberadaan para pedagang yang menetap di trotoar dalam waktu lama menjadi perhatian serius Dedi. Ia menyoroti perlunya pengembalian fungsi trotoar sebagai ruang publik yang nyaman bagi pejalan kaki. Setelah melalui serangkaian proses, penataan kawasan tersebut akhirnya mulai menunjukkan hasil melalui pendekatan dialogis dan humanis yang diinisiasi oleh orang nomor satu di Jawa Barat itu.
Dalam kunjungannya ke lokasi, Dedi tidak hanya melakukan pembongkaran lapak, tetapi juga menawarkan solusi nyata. Ia memberikan jaminan lapangan pekerjaan baru bagi para pedagang yang terdampak penertiban. Langkah ini diambil agar Kota Bandung menjadi lebih bersih dan rapi, sementara di sisi lain masyarakat kecil tetap memiliki penghasilan yang lebih baik dan pasti.
“Langkah ini diambil agar Kota Bandung menjadi lebih bersih dan rapi, sementara di sisi lain rakyat kecil tetap memiliki pekerjaan dengan penghasilan yang jauh lebih baik dan pasti demi mengatasi kemiskinan,” ujar Dedi dalam pernyataannya, Selasa (19/5).
“Pemerintah harus mengefisiensikan anggaran untuk dialokasikan langsung pada pekerjaan riil yang menyentuh masyarakat,” pesan pria yang akrab disapa KDM itu.
Sebagai bagian dari solusi, Gubernur Jawa Barat itu menawarkan program alih profesi kepada para pedagang. Salah satu opsi yang disediakan adalah menjadi petugas kebersihan kota di bawah pengelolaan pemeliharaan fasilitas jalan provinsi. Menurut Dedi, melalui program ini para mantan pedagang dapat memperoleh kepastian penghasilan harian yang disesuaikan dengan standar upah minimum kota (UMK).
Untuk menjembatani masa transisi sebelum mereka resmi bekerja, Dedi mengambil langkah spontan. Ia memborong seluruh barang dagangan yang tersisa milik para pedagang yang ditemuinya, mulai dari pedagang asongan, ikan, hingga kacamata keliling. Selain itu, ia juga memberikan bantuan modal hidup sementara kepada mereka.
Proses pembongkaran bangunan kios selanjutnya akan dibantu menggunakan alat berat. Material besi dan kayu sisa lapak yang masih layak direncanakan dapat dimanfaatkan kembali oleh para pedagang. Dengan penataan yang mengedepankan sisi kemanusiaan ini, kawasan trotoar Pasar Cicadas diharapkan dapat kembali berfungsi dengan baik, mengembalikan keasrian ruang publik tanpa harus mengorbankan kesejahteraan ekonomi warga kecil.
Artikel Terkait
PT Musim Mas Hormati Proses Hukum Usai Ditetapkan Tersangka Korporasi Kasus Perusakan Lingkungan di Riau
Kebakaran Rumah di Cengkareng, Dua Orang Luka Bakar
Enzo Maresca Kandidat Terdepan Gantikan Guardiola di Manchester City
Menaker Dorong Pekerja Terus Berinovasi di Tengah Dinamika Global dan Perkembangan Teknologi