Menurut Netanyahu, serangan-serangan yang masih berlangsung ini punya dampak ganda. Di satu sisi, program rudal dan nuklir Iran dihancurkan. Di sisi lain, kelompok Hizbullah di Lebanon juga mengalami kerusakan yang cukup berat.
Dia bahkan menyebut aksi yang lebih spesifik. "Beberapa hari yang lalu, kami telah melenyapkan dua ilmuwan nuklir Iran lagi," ucap Netanyahu. Dan pesannya jelas: "Ini bukanlah akhir."
Komentar sang perdana menteri ini muncul di waktu yang menarik. Hanya selang beberapa saat setelah Donald Trump sendiri mengumumkan bahwa dia baru saja melakukan pembicaraan "sangat baik" dengan seorang pejabat Iran yang namanya sengaja tidak disebutkan.
Langkah Trump ini terasa mendadak. Pergeseran ke jalur diplomasi itu terjadi hanya hitungan jam sebelum ultimatunya yang terkenal. Ultimatum yang sempat ditegaskan pada Senin malam itu akhirnya ditunda. Isinya sederhana: Teheran harus membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz. Kalau tidak, ancamannya, militer AS siap "menghancurkan" pembangkit listrik mereka.
Artikel Terkait
Iran Bantah Klaim Trump Soal Dialog, Tegaskan Tak Ada Pembicaraan dengan AS
Ledakan Petasan di Pekalongan Tewaskan Dua Remaja, Satu Korban Tak Bersalah Turut Terluka
Leapmotor Pacu Inovasi Mobil Listrik dengan Teknologi Baterai Terintegrasi ke Sasis
Iran Tegaskan Tidak Ada Negosiasi dengan AS, Siapkan Respons Keras untuk Serangan