Iran dengan tegas menyatakan tidak sedang bernegosiasi dengan Amerika Serikat. Pernyataan ini sekaligus membantah berbagai laporan yang beredar soal adanya pembicaraan diam-diam di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah.
Menurut kantor berita resmi IRNA, juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baghaei, mengungkapkan bahwa dalam beberapa hari terakhir, sejumlah pesan dari AS memang telah disampaikan. Pesan itu datang melalui perantara negara-negara yang disebutnya sebagai "sahabat". Intinya, Washington rupanya meminta dialog untuk menghentikan perang.
Namun begitu, Iran sudah memberikan jawaban. "Kami menanggapi sesuai dengan posisi prinsip kami," kata Baghaei, tanpa mau bertele-tele.
Tanggapan itu bukan sekadar penolakan biasa. Iran juga menyelipkan peringatan keras. Mereka mengingatkan akan ada "konsekuensi serius" jika infrastruktur vital negara mereka diserang. Terutama fasilitas energi.
"Setiap tindakan yang menargetkan aset energi Iran akan dihadapi dengan respons yang tegas, segera, dan efektif oleh angkatan bersenjata kami," tegas Baghaei. Ancaman itu disampaikan dengan nada datar, tapi maknanya jelas.
Lebih jauh, sang juru bicara membantah keras klaim bahwa ada negosiasi bahkan sekadar dialog dengan AS dalam 24 hari terakhir. Periode ini merujuk pada sejak pecahnya apa yang oleh Iran disebut sebagai "perang yang dipaksakan" kepada mereka.
Posisi Iran, tutur Baghaei, tetap kokoh dan tidak berubah. Hal ini menyangkut dua isu krusial: status Selat Hormuz yang strategis, dan syarat-syarat apa yang mereka ajukan untuk mengakhiri konflik ini. Pesannya sederhana: tidak ada ruang untuk tawar-menawar.
Artikel Terkait
Survei IDM: 75,1 Persen Publik Puas dengan Kinerja Polri dalam Pemberantasan Judi hingga Narkoba
KPK Usut Dugaan Aliran Uang dalam Penerbitan Sertifikat K3 di Kemenaker
Yusril Harap Sidang Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS Berjalan Profesional dan Objektif
Imigrasi Dalami Kemungkinan Keterlibatan WNI dalam Jaringan Penipuan Daring 210 WNA di Batam