Pendapatan PSGO Tembus Rp2,55 Triliun di 2025, Laba Bersih Melonjak 26,3 Persen

- Jumat, 08 Mei 2026 | 17:50 WIB
Pendapatan PSGO Tembus Rp2,55 Triliun di 2025, Laba Bersih Melonjak 26,3 Persen

PT Palma Serasih Tbk (PSGO) mencatatkan pendapatan sebesar Rp2,55 triliun sepanjang tahun 2025, tumbuh sekitar 20 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang mencapai Rp2,1 triliun. Kenaikan ini diiringi oleh lonjakan laba bersih perseroan yang mencapai Rp442,8 miliar, meningkat 26,3 persen dari Rp350,6 miliar pada 2024.

Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan PSGO, Astrida Niovita Bachtiar, mengungkapkan bahwa kinerja positif tersebut didorong oleh peningkatan produktivitas perkebunan serta disiplin dalam pengelolaan biaya operasional. Hal ini dicapai di tengah dinamika industri kelapa sawit global dan fluktuasi harga komoditas yang masih berlangsung.

“Kinerja positif ini didorong oleh peningkatan produktivitas perkebunan serta disiplin dalam pengelolaan biaya operasional, di tengah dinamika industri kelapa sawit global dan fluktuasi harga komoditas,” ujar Astrida dalam keterangan resminya, Kamis (7/5/2026).

Dari sisi profitabilitas, perseroan berhasil membukukan EBITDA sebesar Rp752,3 miliar dengan margin yang tetap sehat di kisaran 29,5 persen. Menurut Astrida, angka tersebut mencerminkan kemampuan PSGO dalam menjaga kinerja keuangan yang solid dan berkelanjutan.

Sementara itu, dari segi operasional, PSGO mencatat volume produksi Tandan Buah Segar (TBS) Inti sebesar 355,2 ribu ton, dengan produksi Crude Palm Oil (CPO) mencapai 140,2 ribu ton. Produktivitas TBS inti tercatat sebesar 17,8 ton per hektare, yang dinilai masih berpotensi tumbuh seiring bertambahnya usia tanaman menuju fase prima.

Astrida menekankan bahwa pertumbuhan berkelanjutan hanya dapat dicapai melalui kombinasi penerapan praktik manajemen terbaik, konsistensi standar operasional, efisiensi, pengelolaan aset yang optimal, serta komitmen terhadap praktik bisnis yang bertanggung jawab. Ia menambahkan, capaian sepanjang 2025 telah menjadi fondasi yang kuat bagi perseroan untuk melanjutkan pertumbuhan ke depan.

Memasuki tahun 2026, PSGO menargetkan pertumbuhan berkelanjutan melalui peningkatan produktivitas dan efisiensi operasional. “Strategi utama kami fokuskan pada ekspansi usaha secara selektif, konsistensi penerapan praktik agrikultur terbaik, dan penguatan implementasi program keberlanjutan dalam seluruh kegiatan operasional,” ujar Astrida.

Namun, perseroan tidak hanya berfokus pada ekspansi. Astrida menegaskan bahwa dampak sosial dan kemitraan tetap menjadi prioritas dalam menjalankan bisnis ke depan.

Sebagai perusahaan terintegrasi yang mengelola lebih dari 28 ribu hektare area tertanam inti dan plasma dengan wilayah operasional terpusat di Kalimantan Timur, PSGO menjalankan komitmen keberlanjutan melalui kebijakan No Deforestation, No Peat, No Exploitation (NDPE) yang diterapkan di seluruh operasional. Dalam aspek lingkungan, perseroan mengalokasikan area dengan nilai konservasi tinggi untuk dilindungi serta menjalankan pengelolaan bentang alam secara kolaboratif, termasuk di Kawasan Wehea-Kelay.

Upaya perlindungan biodiversitas juga dilakukan melalui kerja sama dengan organisasi konservasi seperti Borneo Orangutan Survival Foundation dan The Nature Conservancy, termasuk program konservasi dan rehabilitasi habitat orangutan. Di sisi sosial, perseroan terus mengembangkan kemitraan petani plasma yang telah berjalan sejak 2009, serta mendorong pemberdayaan masyarakat lokal melalui berbagai inisiatif ekonomi dan dukungan infrastruktur sosial, termasuk sektor pendidikan di sekitar wilayah operasional.

Untuk memastikan standar operasional yang berkelanjutan, perseroan telah memperoleh dan mempertahankan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) untuk kebun inti dan secara bertahap untuk kebun plasma, serta sertifikasi internasional lainnya seperti ISCC dan GGL.

“Keberlanjutan bukan hanya bagian dari kepatuhan, melainkan fondasi dalam setiap pengambilan keputusan strategis kami. Kami berkomitmen terus menciptakan nilai jangka panjang yang seimbang bagi pemegang saham, masyarakat, dan lingkungan,” ujar Astrida.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar