Washington. Ada laporan mengejutkan dari kalangan intelijen AS. Menurut mereka, Rusia diduga memberikan informasi sensitif kepada Iran. Informasi itu bisa dipakai Teheran untuk mengincar aset militer Amerika di Timur Tengah mulai dari kapal perang hingga pesawat tempur.
Dua pejabat yang mengetahui laporan itu mengungkapkannya ke Euronews, Sabtu (7/2/2026). Mereka bilang, data dari Moskow berpotensi dipakai Iran untuk melancarkan serangan di kawasan Teluk. Kedua pejabat itu minta anonim karena tak berwenang bicara soal intelijen sensitif.
Namun begitu, AS sendiri belum menemukan bukti bahwa Rusia secara langsung mengarahkan Iran cara menggunakan informasi tersebut. Kalau dugaan ini benar, ini jadi indikasi pertama keterlibatan tidak langsung Moskow dalam perang yang baru berkobar sepekan lalu. Perang ini pecah usai serangan gabungan AS dan Israel ke Iran.
Hubungan Rusia dan Iran memang sudah lama akrab. Di tengah isolasi internasional yang dihadapi Teheran baik karena program nuklirnya maupun dukungannya pada kelompok proksi Moskow termasuk sedikit sekutu yang masih bertahan.
Gedung Putih Anggap Tak Pengaruhi Operasi
Tanggapan Gedung Putih? Cukup dingin. Mereka meremehkan dampak laporan ini terhadap operasi militer AS di kawasan.
“Itu jelas tidak membuat perbedaan terhadap operasi militer kami di Iran karena kami sepenuhnya sedang melumpuhkan mereka,”
kata juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, kepada para wartawan.
Sementara itu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyebut militer AS terus memantau situasi dengan ketat. Dalam wawancara dengan 60 Minutes CBS, Hegseth menegaskan semua kemungkinan sudah dipertimbangkan.
“Rakyat Amerika dapat yakin bahwa panglima tertinggi mereka mengetahui siapa yang berbicara dengan siapa,”
katanya.
Kremlin Bungkam
Di Moskow, Kremlin menolak berkomentar rinci. Juru bicara Dmitry Peskov menyatakan Iran tak pernah minta bantuan militer dari Rusia.
“Kami berdialog dengan pihak Iran dan akan terus melanjutkan dialog tersebut,”
ujar Peskov.
Ketika ditanya lebih lanjut soal bantuan militer atau intelijen sejak perang mulai, dia tak mau menjawab. Sikapnya itu cuma menambah tanda tanya.
Laporan ini muncul di saat ketegangan kian memanas. Kekhawatiran banyak pihak, konflik antara Iran dengan AS dan Israel ini bisa merembet, berubah jadi konfrontasi geopolitik yang lebih besar dan melibatkan kekuatan-kekuatan global.
Artikel Terkait
Korlantas Gelar Dialog dengan Komunitas Ojol, Dapat Apresiasi Atas Pergeseran Paradigma
Kapolda Riau Tegaskan: Citra Polri Dibangun dari Komunikasi Humanis dan Integritas Internal
BEI Pastikan Komunikasi dengan MSCI Berjalan Konstruktif Soal Reformasi Pasar
Gus Ipul Siapkan 10 Titik Baru Sekolah Rakyat untuk Seribu Anak Putus Sekolah