Malam Sabtu itu, dua rudal balistik Iran menghantam kota Dimona dan Arad di selatan Israel. Yang mengejutkan, keduanya berhasil menembus pertahanan udara negara itu. Padahal, Dimona bukan sembarang tempat. Kota di Gurun Negev ini hanya berjarak sekitar 12 kilometer dari fasilitas penelitian nuklir dan reaktor utama Israel salah satu lokasi yang seharusnya paling terlindungi di negara itu.
Warga Israel yang sudah berpengalaman dengan serangan pun tampak terguncang. Kerusakan fisik memang ada, tapi ada hal lain yang lebih mencemaskan: pengakuan militer bahwa mereka sudah berusaha mencegat rudal-rudal itu, namun gagal. Serangan itu sendiri terjadi dengan selang waktu sekitar tiga jam. Kegagalan ini langsung memunculkan tanda tanya besar soal efektivitas sistem pertahanan berlapis Israel, yang selama ini diandalkan untuk melindungi warganya.
Lalu, muncul spekulasi. Apakah militer sengaja menahan diri untuk tidak menembakkan rudal pencegatnya yang paling canggih dan mahal? Isu tentang menipisnya persediaan rudal sejak perang 12 hari dengan Iran tahun lalu kembali mencuat. Kekhawatiran ini mungkin bakal makin menjadi-jadi. Apalagi, Letnan Jenderal Eyal Zamir, kepala staf militer Israel, baru-baru ini menyebut kampanye melawan Iran saat ini masih "setengah jalan".
Para pejabat militer mengaku sedang menyelidiki apa yang salah, tapi mereka enggan berbagi detail. Situasinya serba tertutup.
Ketika mengunjungi lokasi serangan pada hari Minggu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebut tidak ada korban jiwa sebagai sebuah "keajaiban". Ia mendesak warganya untuk tidak lengah dan segera mencari perlindungan begitu peringatan rudal berbunyi.
Namun begitu, Netanyahu sama sekali tidak menjelaskan mengapa pencegatan bisa gagal. Ia juga tak menyebut-nyebut sistem pertahanan udara mutakhir hasil investasi miliaran dolar bersama Amerika Serikat itu, yang dirancang untuk menghadapi ancaman dari roket jarak pendek hingga rudal balistik jarak jauh.
Memang, militer mengklaim tingkat keberhasilan pencegatan rudal balistik Iran di atas 90 persen. Tapi para pejabat dan ahli sendiri mengakui, pertahanan yang 100 persen kedap itu mustahil.
“Dimona dilindungi dengan sistem pertahanan berlapis oleh Israel dan Amerika,” kata Ran Kochav, seorang brigadir jenderal pasukan cadangan.
“Tapi tidak ada yang sempurna. Terjadi kegagalan operasional,” ungkapnya.
Artikel Terkait
Pendiri OnlyFans Leonid Radvinsky Meninggal Dunia Setelah Berjuang Melawan Kanker
Netanyahu dan Trump Bahas Kesepakatan Baru Usai Operasi Militer di Iran
Arsenal Kehilangan Lima Pemain Inti untuk Jeda Internasional Akibat Cedera
Revisi UU Pemda 2026 Dinanti Jadi Momentum Perbaiki Hubungan Pusat-Daerah