Nah, kalau mau cerita unik, lihatlah ke pesisir Cilacap. Di Kampung Laut, Wahyono dulu dicap "gila" oleh tetangganya. Saat lahan mangrove gundul dan penuh bangkai udang, dia nekad menanam bakau kembali.
"Dulu semuanya gersang, namun, saya yakin mangrove adalah 'pabrik' alami kita, kini, keraguan warga sirna," ujar Wahyono.
Kegilaannya berbuah manis. Pembibitannya kini sanggup hasilkan 800 ribu bibit mangrove tiap tahun. Kawasan itu berubah jadi destinasi eduwisata, bahkan dikagumi peneliti internasional sebagai contoh pemulihan pesisir.
"Dulu mereka bilang saya gila, sekarang kita 'gila' bersama-sama untuk menjaga hutan demi masa depan anak cucu," katanya sambil tertawa.
Muhammad Baron, Vice President Corporate Communication Pertamina, melihat ketiga kisah ini sebagai bukti nyata dukungan perusahaan terhadap kedaulatan pangan. Visi ini sejalan dengan arahan pemerintah.
Program Hutan Lestari, jelasnya, sudah menanam lebih dari delapan juta pohon. Kuncinya ada pada integrasi: reboisasi, pemberdayaan ekonomi, dan edukasi untuk generasi muda berjalan beriringan.
"Pertamina membuktikan bahwa menjaga energi bumi bisa sejalan dengan menghidupkan kemandirian masyarakat, hutan tidak lagi hanya dijaga agar tidak rusak, tapi dirawat agar terus memberi kehidupan," lanjut Baron.
Dampaknya lebih luas. Inisiatif ini menyentuh beberapa target SDGs, seperti mengakhiri kelaparan, mendorong produksi berkelanjutan, dan aksi iklim. Prinsip ESG environmental, social, and governance menjadi fondasi kuat untuk bisnis yang berkelanjutan. Intinya, semua saling terhubung.
Artikel Terkait
Kemacetan Parah Landa Jalur Nagreg, 107 Ribu Kendaraan Padati Jalur Mudik
423 Warga Binaan di Papua Terima Remisi Khusus Idulfitri
Ragunan Dikunjungi 67 Ribu Orang di H+1 Lebaran
Monas Dibanjiri 13.500 Pengunjung di H+1 Lebaran