Program Hutan Lestari Pertamina Hidupkan Kembali Ekonomi Warga di Lereng Gunung Agung

- Minggu, 22 Maret 2026 | 18:15 WIB
Program Hutan Lestari Pertamina Hidupkan Kembali Ekonomi Warga di Lereng Gunung Agung

Lonceng di Pura Kancing Gumi, Bali, berdentang mengusik sunyi lereng Gunung Agung. Doa-doa melayang dari ketinggian 250 meter, memohon keselamatan. Tapi bagi warga sekitar Hutan Mahawana Basuki Besakih, doa saja tak cukup. Harus ada aksi nyata.

Di sinilah program Hutan Lestari Pertamina masuk. Pasca erupsi 2017 yang hebat, lereng itu sempat mati suri. Kini, filosofi Tri Hita Karana soal harmoni manusia, Tuhan, dan alam diwujudkan dengan menanam kembali pepohonan. Yang menarik, upaya ini tak cuma menghijaukan, tapi juga menggerakkan roda ekonomi desa.

I Nyoman Artana, sosok kunci di balik perubahan ini, punya prinsip kuat. Ia meyakini Besakih adalah hulu, jantung Pulau Dewata.

"Mengelola lingkungan harus dimulai dari hulu. Jika lokasi ini tidak dipelihara dengan baik, Bali akan rentan terhadap bencana dan perubahan iklim," tegas Nyoman, Minggu (22/3/2026).

Hasilnya? Sungguh menggembirakan. Kelompok binaannya kini bisa memanen madu kelanceng 100-150 kg per tahun. Harganya lumayan, mencapai Rp500.000 per liter. Tak cuma madu, wisata alamnya pun melejit. Pendapatan kelompok dari sektor ini menyentuh Rp 120 juta sebulan, menyerap puluhan warga sebagai pengelola.

Semangat serupa ternyata bergema jauh, hingga ke Ulubelu, Lampung. Wastoyo, seorang mantan pemburu, ceritanya cukup dramatis. Dulu, hutan baginya adalah tempat mencari nafkah dengan cara diburu dan ditebang.

"Dulu, menebang pohon adalah cara instan kami untuk menyambung hidup karena ketidaktahuan. Kami terjebak dalam siklus perusakan demi sesuap nasi," kenangnya.

Semuanya berubah setelah Sekolah Hutan Lestari hadir. KUPS Margo Rukun, kelompoknya, didampingi intensif. Mereka bertransformasi total: dari perusak jadi penjaga. Mereka menanam puluhan ribu bibit pohon serbaguna dan bahkan mengolah limbah kopi jadi pupuk berkualitas lewat unit Pertaganik Bestari.

Kisah suksesnya nyata. Omzet kelompok itu kini tembus Rp2,2 miliar per tahun. Bahkan, metode pembibitan dan budidaya lebah mereka jadi rujukan perusahaan-perusahaan besar untuk rehabilitasi lahan di Lampung.

Editor: Hendra Wijaya


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar