Coba hitung kasar saja. Biaya mudik satu keluarga besar bisa setara dengan anggaran belanja beberapa bulan. Tenaga terkuras, waktu habis di perjalanan, risikonya pun tidak kecil. Tapi semua tetap dilakukan seringkali bukan karena keinginan murni, melainkan karena tekanan sosial yang tak pernah kita pertanyakan.
Di sisi lain, cara kita bersilaturahmi sudah berubah total. Teknologi memampukan kita video call dengan keluarga di mana saja, kapan saja. Jarak fisik bukan lagi penghalang mutlak.
Ada ironi yang lucu sekaligus menyedihkan. Tak sedikit orang yang pulang jauh-jauh, akhirnya hanya duduk berkumpul sambil asyik dengan ponsel masing-masing. Ingin dekat, eh malah jadi berjarak juga.
Maka pertanyaannya harus lebih jujur: sebenarnya apa sih yang kita cari dari mudik? Jangan-jangan bukan tentang sampai di kampung halaman, tapi lebih pada perasaan "pulang" itu sendiri.
Di tengah semua perubahan ini, Jakarta mengambil sikap yang cukup berani. Kota tidak menampik tradisi, tapi juga tidak membiarkannya berjalan tanpa opsi lain. Jakarta menawarkan kemungkinan baru: bahwa merayakan Lebaran tak harus selalu berarti pergi meninggalkan kota.
Perubahan besar tentu tak terjadi dalam semalam. Arus mudik kemungkinan masih akan deras tahun-tahun mendatang. Tapi setiap kebiasaan, sekuat apapun, selalu bisa untuk ditinjau ulang.
Dan tahun ini, Jakarta mulai mengajukan pertanyaan itu. Bahwa Lebaran bisa dirayakan dengan cara berbeda. Bahwa kota metropolitan pun bisa terasa seperti "rumah". Barangkali yang kita cari selama ini bukan sekadar sebuah tempat, melainkan rasa pulang yang bisa hadir di mana saja.
M Shendy Adam Firdaus.
Kepala Bidang Komunikasi Publik Diskominfotik Provinsi DKI Jakarta.
Artikel Terkait
Bus Agra Mas Tabrak Truk Bawang di Tol Solo-Ngawi, 1 Tewas dan 31 Luka-luka
Polda Riau Ganti Halal Bihalal dengan Bagikan Bibit Pohon di Idul Fitri
Genangan 30 Cm di Tol Jagorawi Picu Macet, TIP KM 10 Ditutup
Kabulkan Permohonan Keluarga, KPK Alihkan Yaqut Cholil Qoumas ke Tahanan Rumah