Gelombang protes di Iran kian meluas, dan situasinya makin suram. Laporan terbaru dari lembaga aktivis HAM menyebutkan, korban jiwa sudah mencapai 116 orang. Angka yang sungguh memilukan.
Mengutip AP News, sejak Minggu (11/1/2026) lalu, akses informasi dari dalam negeri Iran nyaris terputus sama sekali. Pemerintah memutus jaringan internet dan memblokir telepon. Akibatnya, bagi para pemantau di luar negeri, melacak perkembangan demonstrasi nasional ini jadi pekerjaan yang hampir mustahil.
Human Rights Activists News Agency, yang berbasis di AS, memberikan data yang lebih rinci. Menurut mereka, selain ratusan korban tewas, lebih dari 2.600 orang telah ditahan dalam kerusuhan ini. Lembaga ini punya rekam jejak yang dianggap cukup akurat dalam melaporkan berbagai gelombang kerusuhan sebelumnya di Iran.
Di sisi lain, narasi dari pemerintah Iran jelas berbeda. Televisi negara menyiarkan bahwa situasi tetap terkendali, meski mengakui ada korban dari pihak pasukan keamanan. Mereka juga tak menyangkal bahwa aksi masih berlanjut hingga Minggu pagi, terutama di dua titik: Teheran dan Mashhad di timur laut.
Sinyal penindakan keras semakin kencang terdengar. Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei sudah memberi isyarat, dan ancaman dari pejabatnya makin gamblang. Jaksa Agung Iran, Mohammad Movahedi Azad, mewanti-wanti bahwa peserta demonstrasi akan dianggap sebagai 'musuh Tuhan' sebuah tuduhan berat yang ancaman hukumannya adalah mati.
Siaran televisi pemerintah menegaskan, mereka yang membantu "para perusuh" pun akan menghadapi tuntutan yang sama.
"Para jaksa harus dengan cermat dan tanpa penundaan, melalui menerbitkan dakwaan, menyiapkan dasar bagi persidangan dan konfrontasi tegas terhadap mereka yang mengkhianati bangsa dan menciptakan ketidakamanan, berupaya membawa dominasi asing di negara ini," bunyi pernyataan resmi itu.
"Proses hukum harus dilakukan tanpa kelonggaran, belas kasihan, atau toleransi," sambungnya dengan nada keras.
Lalu, dari seberang lautan, datang suara lain. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyampaikan dukungan terbuka untuk para demonstran.
"Iran sedang melihat kebebasan, mungkin seperti belum pernah sebelumnya. AS siap membantu!!!" kicau Trump.
Namun begitu, dukungan itu bukan sekadar kata-kata. Menurut laporan The New York Times dan The Wall Street Journal yang mengutip pejabat AS anonim Trump sejatinya sudah diberi sejumlah opsi militer untuk menyerang Iran. Keputusan akhirnya memang belum diambil, tapi situasinya jelas sangat rentan.
Peringatan dari Departemen Luar Negeri AS terdengar lebih langsung: "Jangan main-main dengan Presiden Trump. Ketika dia mengatakan akan melakukan sesuatu, dia sungguh-sungguh."
Jadi, di tengah gelapnya informasi dari dalam negeri Iran, tekanan justru datang dari segala arah. Dari dalam, ancaman hukuman mati. Dari luar, ancaman intervensi. Rakyat yang turun ke jalan terjepit di tengahnya, dalam sebuah krisis yang belum terlihat ujungnya.
Artikel Terkait
Relawan Indonesia Herman Budianto Ungkap Penyiksaan Brutal Tentara Israel saat Bajak Kapal Bantuan Gaza
Presiden Prabowo Tiba di Istana Elysee Paris, Disambut Menteri Pertahanan Prancis
Politisi Golkar Nilai Pelayanan Haji 2026 Meningkat Signifikan, Petugas Lebih Disiplin
Macron Puji Ketegasan Prabowo Perjuangkan Perdamaian dan Kedaulatan Palestina