MURIANETWORK.COM - Produsen otomotif legendaris asal Amerika Serikat, Ford Motor Company, menghadapi tantangan berat di akhir tahun 2025. Perusahaan melaporkan kerugian bersih yang sangat signifikan, mencapai USD 11,1 miliar atau setara dengan Rp 186 triliun pada kuartal keempat tahun tersebut. Kerugian kuartalan ini tercatat sebagai yang terburuk sejak krisis finansial global 2008, menandai periode sulit bagi salah satu raksasa industri mobil dunia.
Dampak pada Kinerja Tahunan
Gelombang merah laporan keuangan tidak hanya berhenti di satu kuartal. Secara keseluruhan, sepanjang tahun 2025 Ford mencatat kerugian bersih kumulatif sebesar USD 8,2 miliar atau sekitar Rp 137 triliun. Angka ini menggambarkan intensitas tekanan yang dihadapi perusahaan dalam setahun terakhir.
Di sisi pendapatan, performa kuartal IV juga menunjukkan tren yang kurang menggembirakan. Ford membukukan pendapatan sebesar USD 45,9 miliar (sekitar Rp 769 triliun), mengalami penurunan sekitar 5 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2024.
Faktor Penyebab Kerugian
Manajemen Ford mengidentifikasi beberapa faktor kunci di balik kinerja keuangan yang melemah ini. Salah satu beban terbesar berasal dari biaya tarif impor suku cadang mobil yang harus ditanggung perusahaan.
Artikel Terkait
Presiden Prabowo Mulai Kunjungan Negara ke Jepang, Temui Kaisar dan PM
Anggaran Diskon Tiket Pelni Terserap 92,5%, Penumpang Capai 431.705 Orang
Jens Raven Gantikan Mauro Zijlstra yang Cedera Jelang Final FIFA Series
BCA Ikut Earth Hour, Layanan Perbankan Tetap Berjalan Normal