Jakarta tahun ini merayakan Idulfitri dengan cara yang berbeda. Bukan cuma soal takbir yang berkumandang lagi, tapi lebih pada semangat yang diusungnya. Kota ini seolah ingin merangkul semua orang.
Ambil contoh perayaan di Bundaran HI. Festival Beduk Kolosal digelar, diiringi pertunjukan air mancur dan instalasi seni yang memukau. Acara berlangsung dua malam, tanggal 19 dan 20 Maret. Pilihan tanggal itu jelas punya maksud. Mengingat ada perbedaan penentuan hari raya sebagian merayakan tanggal 20, sebagian lagi tanggal 21 Jakarta memutuskan untuk hadir di tengah-tengah. Sebuah langkah teknis yang sesungguhnya sangat politis, menunjukkan negara hadir untuk mengakomodasi perbedaan.
Ini bukan satu-satunya contoh. Beberapa bulan belakangan, Jakarta terlihat aktif menyusun ulang kalender budayanya. Dari Festival Ogoh-Ogoh sebelum Nyepi, kemeriahan Imlek di bulan Februari, hingga Christmas Carol di penghujung tahun. Semua diberi panggung yang sama. Kota ini berusaha menjadi rumah bagi beragam identitas, dan upayanya terlihat semakin luwes. Inklusivitasnya bukan sekadar wacana, tapi benar-benar diwujudkan.
Namun begitu, mungkin eksperimen paling menarik justru datang dari sebuah program yang namanya tak biasa: Mudik ke Jakarta.
Selama ini, tradisi mudik jarang dipertanyakan. Ia dianggap sebuah kewajaran, bahkan kewajiban. Padahal, di balik romantisme pulang kampung, tersimpan beban yang kerap kita anggap biasa saja: tiket transportasi yang melambung tinggi, perjalanan yang melelahkan, kemacetan tak berujung, dan ancaman kecelakaan di jalan.
Kita menyebutnya tradisi. Tapi apa semua yang sudah berlangsung lama harus diterima begitu saja? Di sinilah Jakarta mencoba menawarkan sesuatu. Bukan untuk melarang orang pulang, tapi memberikan pilihan lain. Bagaimana kalau kali ini Jakarta justru jadi tujuan? Mumpung kota sedang lebih sepi, ini saat yang tepat untuk menikmatinya.
Programnya sendiri disiapkan dengan serius. Bukan slogan kosong. Warga Jakarta bisa menikmati transportasi publik seperti Transjakarta, MRT, dan LRT dengan tarif simbolis satu rupiah. Ada juga diskon belanja lewat Jakarta Festive Wonders yang melibatkan ratusan mall dan toko. Paket wisata, akomodasi hotel, dan tiket hiburan dikemas jadi satu pengalaman yang menarik.
Bagi warga dari luar ibu kota, insentifnya bahkan lebih menggiurkan. Ada potongan harga untuk tiket pesawat dan kereta api. Promo hotel macam "bayar dua malam, dapat tiga". Serta beragam paket tur tematik yang disediakan.
Ini lebih dari sekadar promosi pariwisata. Ini upaya mengubah pola pikir. Sesuatu yang dulu mungkin tak terpikirkan.
Artikel Terkait
Bus Agra Mas Tabrak Truk Bawang di Tol Solo-Ngawi, 1 Tewas dan 31 Luka-luka
Polda Riau Ganti Halal Bihalal dengan Bagikan Bibit Pohon di Idul Fitri
Genangan 30 Cm di Tol Jagorawi Picu Macet, TIP KM 10 Ditutup
Kabulkan Permohonan Keluarga, KPK Alihkan Yaqut Cholil Qoumas ke Tahanan Rumah