Lalu, apa penyebabnya? Rupanya, pasar sedang bereaksi terhadap kabar dari International Energy Agency (IEA). Badan energi global itu berencana melepas cadangan minyak darurat mereka dalam volume yang besar-besaran. Langkah ini jelas dimaksudkan untuk meredam gejolak.
Sebelumnya, ketegangan di Timur Tengah tepatnya di sekitar Selat Hormuz yang vital sempat bikin semua orang panik. Kekhawatiran bakal ada gangguan pasokan mendorong harga minyak melonjak drastis, bahkan menembus level psikologis USD 100 per barel di awal pekan. Nah, rencana IEA ini diharapkan bisa jadi penyeimbang, menstabilkan situasi pasokan global yang sempat mencemaskan.
Namun begitu, jangan dulu berharap pasar akan tenang-tenang saja. Volatilitas alias gejolak harga diprediksi masih akan tinggi dalam beberapa waktu ke depan. Pelaku pasar kini menunggu dengan waspada. Dua hal jadi perhatian utama: rilis data inflasi AS (CPI) yang bakal memberi sinyal arah kebijakan The Fed, dan tentu saja, perkembangan terbaru dari kancah geopolitik Timur Tengah yang masih panas.
Surya Mahmuda
Artikel Terkait
Putri Kim Jong Un Tembakkan Senjata, Sinyal Persiapan Penerus?
Valverde Cetak Hattrick, Bawa Madrid Hancurkan Manchester City 3-0
Iran Klaim Serang Dua Kapal Tanker di Teluk Persia, Satu Awak Tewas
VinFast Gandeng Enam Dealer untuk Luncurkan Motor Listrik di Indonesia 2026