Status Gunung Tambora di Nusa Tenggara Barat resmi dinaikkan. Dari level normal, kini menjadi waspada. Ini perintah langsung dari Badan Geologi Kementerian ESDM, dan warga diimbau untuk tidak mendekat dalam radius tiga kilometer dari puncak gunung.
Laporan khusus bernomor 525..Lap/GL.03/BGL/2026 yang mereka terbitkan jadi dasarnya. Intinya, aktivitas vulkanik di gunung legendaris itu memang menunjukkan tanda-tanda peningkatan yang perlu diwaspadai.
Kepala Badan Geologi, Lana Saria, memberikan penjelasan lebih rinci.
"Gunung api Tambora secara administratif berada di wilayah Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima, NTB, menunjukkan terjadinya peningkatan aktivitas vulkanik," ujarnya.
Nah, peningkatan itu terutama terlihat dari gempa-gempa. Bukan gempa biasa, tapi gempa vulkanik dalam yang berkaitan dengan pergerakan magma dari perut bumi menuju kantong magma di bawah gunung. Datanya cukup jelas: Januari lalu tercatat 267 kejadian.
Tapi lihatlah apa yang terjadi di bulan Februari.
"Pada bulan Februari 2026 jumlah kejadian gempa vulkanik dalam meningkat cukup signifikan menjadi 453 kejadian," jelas Lana.
Lonjakan itu bukan angka main-main. Menurut para ahli, kondisi tersebut mengindikasikan tekanan fluida magmatik yang kian kuat, disertai suplai magma baru dari kedalaman. Singkatnya, sistem di bawah Tambora sedang aktif bergerak. Data terbaru per 9 Maret pun menunjukkan aktivitas seismik yang masih cukup intens, mengkonfirmasi tren yang mengkhawatirkan ini.
Jadi, meski belum masuk level siaga, kewaspadaan mutlak diperlukan. Warga dan pendaki diharap memperhatikan imbauan jarak aman yang telah ditetapkan.
Artikel Terkait
Praka TNI Gugur Akibat Serangan Israel di Lebanon, Komisi I DPR Desak Pemerintah Perketat Keamanan Pasukan Perdamaian
DPR Minta Debt Collector yang Manipulasi Layanan Ambulans dan Damkar untuk Tagih Utang Dipidanakan
Damkar Semarang Laporkan Debt Collector ke Polisi Usai Laporan Kebakaran Palsu
Empat Prajurit TNI Gugur dalam Dua Serangan Berturut-turut di Lebanon Selatan