Kekacauan komunikasi internal ini diakui sendiri oleh Pezeshkian. Dalam pidato yang sama, dia menyebut serangan-serangan yang terus terjadi itu akibat koordinasi pemerintah yang buruk. Analisis dari luar punya penilaian serupa: Iran mungkin sudah kehilangan otoritas pusat yang solid.
Lihat saja contohnya. Baru-baru ini, Garda Revolusi yang dulu langsung di bawah Khamenei mengancam akan menutup Selat Hormuz. Tapi, tak lama kemudian, militer reguler Iran muncul di TV menyangkal rencana itu. Mereka bilang, selat itu tetap terbuka. Laporan media AS juga sempat mencuat soal upaya Tehran menghubungi Washington untuk membuka kembali negosiasi. Eh, tidak sampai sehari, lembaga lain di Iran membantahnya dan kembali meneriakkan slogan "tidak akan pernah menyerah".
Jadi, apa yang sebenarnya terjadi? Di satu sisi, ada permintaan maaf dan janji penghentian serangan. Di sisi lain, drone masih meluncur dan pernyataan-pernyataan dari dalam negeri saling bersilangan. Tampaknya, peta kekuasaan di Iran pasca-Khamenei masih gelap dan berdarah. Setiap lembaga mungkin sedang tarik-ulur, mencoba menentukan arah negara di tengah tekanan luar yang mencekik. Janji di layar kaca belum tentu jadi kenyataan di lapangan. Dan dunia hanya bisa menunggu, sambil berharap bandara-bandara di kawasan itu aman dari ledakan dadakan berikutnya.
Disusun berdasarkan laporan-laporan media dan pernyataan resmi.
Artikel Terkait
Mojtaba Khamenei Resmi Ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran Baru
KPK Larang ASN Terima atau Beri Hampers Jelang Lebaran
Banjir Lima Meter Rendam Periuk Tangerang, Brimob Evakuasi Warga dan Bagi Logistik
Dua Warga Selamat, Satu Korban Tewas Ditemukan dalam Pencarian di TPST Bantargebang