Pernyataan Damai & Serangan Drone: Sinyal Bertolak Belakang dari Iran
Selama seminggu penuh, serangan bertubi-tubi dari jet tempur dan rudal AS-Israel menghantam Iran. Lalu, terjadi hal yang cukup mengejutkan. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, tampil di televisi nasional pada 7 Maret 2026. Dengan nada yang tak biasa, dia menyampaikan permintaan maaf atas nama dirinya dan pemerintahannya kepada negara-negara tetangga yang jadi sasaran serangan Iran sebelumnya. Intinya jelas: Iran berjanji bakal menghentikan serangan terhadap tetangga, kecuali jika mereka diserang lebih dulu dari wilayah negara tersebut.
Namun begitu, pesannya tidak sepenuhnya lunak. Pezeshkian bersikukuh menolak tekanan Amerika. "Kalau ada yang mau rakyat Iran menyerah tanpa syarat," ujarnya dengan keras, "ya, bawa saja keinginan itu ke dalam kubur."
Sayangnya, janji untuk berhenti menyerang tetangga itu seperti uap di padang pasir. Hampir tak berselang lama dari pidato itu, sebuah drone diduga dari Iran jatuh dan meledak di dekat Bandara Internasional Dubai. Bandara utama Uni Emirat Arab itu sempat ditutup sementara. Menurut sejumlah saksi yang merekam kejadian, objek kecil itu nyaris menghantam Concourse A sebelum akhirnya meledak di luar, menyemburkan asap tebal.
Ini bukan kali pertama sinyal bertentangan muncul dari Tehran. Situasinya memang rumit. Pasca tewasnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei bersama puluhan pejabat tinggi militer dan politik pada akhir Februari, kekuasaan di Iran terlihat kacau. Pezeshkian sendiri hanya menjadi salah satu dari tiga tokoh yang membentuk komite kepemimpinan sementara. Banyak pengamat meragukan apakah komite ini punya kendali penuh, atau justru berbagai institusi di dalam negeri bertindak sendiri-sendiri.
Artikel Terkait
Mojtaba Khamenei Resmi Ditunjuk sebagai Pemimpin Tertinggi Iran Baru
KPK Larang ASN Terima atau Beri Hampers Jelang Lebaran
Banjir Lima Meter Rendam Periuk Tangerang, Brimob Evakuasi Warga dan Bagi Logistik
Dua Warga Selamat, Satu Korban Tewas Ditemukan dalam Pencarian di TPST Bantargebang