Kepahitan itu terpancar jelas dari raut wajah Usman AB, seorang petani yang sudah sepuh.
Baginya, tanah itu bukan sekadar angka. Itu adalah saksi bisu perjuangan puluhan tahun, tetes keringat yang menafkahi keluarga dan membuka jalan untuk anak-anaknya.
Di sisi lain, Usman hanyalah satu dari puluhan korban. Mereka semua kini cuma bisa berdiri, tegar meski hati remuk. Ada rasa pasrah, bahwa ini memang takdir alam. Tapi, harapan kepada negara tetap mereka pegang erat. Warga Pondok Balek mendesak pemerintah untuk segera turun tangan. Mereka butuh mitigasi yang serius, dan yang tak kalah penting: kejelasan soal ganti rugi. Bagaimana mereka bisa menyambung hidup, setelah segala jerih payah habis ditelan bumi?
Artikel Terkait
Polres Metro Tangerang Kota Sediakan Layanan Titip Kendaraan Gratis untuk Pemudik
KARA Raih Tiga Penghargaan Nilai Pelanggan dari Survei Konsumen di Enam Kota
Mendes PDTT Desak Pembaruan Data Tunggal untuk Pastikan Bantuan Tepat Sasaran
Kapolda Riau Dianugerahi Maklumat Hari Ekosistem Atas Komitmen Green Policing