China Serukan Penghentian Segera Perang di Timur Tengah

- Minggu, 08 Maret 2026 | 14:00 WIB
China Serukan Penghentian Segera Perang di Timur Tengah

Sebelum pernyataan ini, sikap China sebenarnya sudah bisa ditebak. Wang Yi sebelumnya telah mengecam tindakan militer AS dan Israel di Iran. Kecaman itu bahkan lebih spesifik, menyoroti pembunuhan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang jelas menjadi pemicu ketegangan luar biasa.

Pandangan China untuk solusi jangka panjang pun diutarakan. Mereka mendorong penyelesaian yang tepat dan layak, berlandaskan beberapa prinsip kunci. Di antaranya, penghormatan terhadap kedaulatan setiap negara, penolakan terhadap penyalahgunaan kekuatan, larangan campur tangan urusan dalam negeri, dan yang paling penting: kembali ke meja dialog politik. Bukan dengan senjata.

"Kami percaya kedaulatan, keamanan, dan integritas Iran juga semua negara di kawasan Teluk harus dihormati. Tidak boleh dilanggar," tegas Wang Yi.

Namun begitu, langkah dari Washington justru berjalan ke arah sebaliknya. Presiden AS Donald Trump dikabarkan mengklaim hak bagi negaranya untuk terlibat dalam menentukan pemimpin Iran selanjutnya. Tak cuma itu, Trump juga disebut menuntut penyerahan tanpa syarat dari Teheran. Tuntutan yang bagi banyak pengamat justru mematikan jalan untuk berunding.

Konflik mematikan ini sendiri pecah pada 28 Februari 2026. Saat itulah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran. Iran pun tak tinggal diam. Mereka membalas dengan gempuran rudal dan drone.

Medan pertikaian ternyata tak cuma di satu front. Israel juga diketahui melancarkan serangan baru di Lebanon. Ini terjadi setelah milisi Hizbullah, sekutu kuat Iran, melepas roket dan drone yang melintasi perbatasan. Perang, sayangnya, terus menjalar.

Editor: Agus Setiawan


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar