Stok beras kita melimpah. Di penghujung Desember 2025 lalu, angka yang tercatat mencapai 3,53 juta ton. Nah, melihat kondisi ini, Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Alex Indra Lukman punya gagasan. Ia mendesak pemerintah untuk segera merancang peta jalan ekspor beras lokal.
“Tantangan kita hari ini, menurunkan biaya produksi dan memperbaiki mutu sehingga kita bisa bersaing dengan negara produsen beras lainnya, dalam merebut potensi pasar global,”
ungkap Alex dalam keterangannya, Minggu (8/3).
Soal biaya produksi, rupanya ada secercah harapan dari Sumatera Barat. Seorang petani inovatif bernama Ir. Djoni disebut Alex telah menemukan metode yang dinamai Sawah Pokok Murah. Hasilnya konstan, tak kalah dengan cara konvensional.
Yang menarik, metode ini sama sekali tak melibatkan pengolahan tanah yang selama ini jadi komponen biaya paling besar. Tanpa perlu olah tanah, otomatis pemakaian pupuk kimia, pestisida, atau fungisida pun bisa ditekan habis. Bahkan, cuaca kemarau diklaim tak lagi jadi ancaman serius. Metode ini disebut mampu meminimalisir risiko gagal panen akibat faktor iklim.
“Walaupun topografi daerahnya perbukitan sehingga tidak memiliki hamparan sawah yang luas, Sumatera Barat ini sudah mampu swasembada beras sejak lama,”
tutur Alex, yang juga menjabat Ketua PDIP Sumbar.
“Dengan adanya inovasi Sawah Pokok Murah yang telah dilaksanakan secara massif di Kabupaten Agam, Pesisir Selatan dan Dharmasraya, biaya produksi sudah bisa dipastikan akan jauh berkurang jika dibandingkan dengan metode konvensional sebagaimana telah diterapkan petani selama ini,”
lanjutnya penuh keyakinan.
Namun begitu, bukan berarti jalan menuju ekspor mulus-mulus saja. Ada satu masalah klasik yang masih mengganjal: kualitas beras itu sendiri. Alex menyoroti persoalan angka patahan (broken) dan menir yang masih tinggi. Ini butuh perhatian serius.
Menurutnya, BRIN dan perguruan tinggi harus turun tangan melalui riset berkelanjutan untuk mengatasi hal ini.
“Kondisi saat ini, beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), mengandung patahan atau menir berada di angka 25-40 persen. Sementara, beras dari negara-negara produsen beras lainnya di Asia Tenggara, kadar broken-nya telah berada di angka 5 persen,”
paparnya.
“Jika kondisi ini tak segera diatasi, pasar beras global akan sangat sulit ditembus,”
tambah Alex dengan nada prihatin.
Implikasinya jelas. Jika pasar global tak bisa dibuka, maka program swasembada pangan yang merupakan bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto bisa mandek. Pemerintah dianggap harus punya jawaban konkret.
“Saat ini, bapak presiden telah mencanangkan peningkatan produksi, baik itu melalui ekstensifikasi maupun intensifikasi pertanian. Sementara, daya serap dalam negeri, tidak bertambah signifikan. Mau diapakan stok melimpah itu nantinya. Ini tantangan yang harus segera dijawab,”
imbuhnya menekankan.
Jadi, persoalannya bukan cuma soal bisa produksi banyak. Tapi juga tentang bagaimana menjualnya ke dunia dengan kualitas yang bersaing. Itulah pekerjaan rumah berikutnya.
Artikel Terkait
Kemendagri Siapkan Empat Kategori Penghargaan untuk Pemda Berprestasi di Sumatera
Indonesia Tegaskan Tak Akan Pungut Tarif di Selat Malaka, Patuhi Hukum Laut Internasional
Kakorlantas: Kolaborasi Kunci Sukses Operasi Ketupat 2026, Negara Hadir Jaga Keamanan Fisik dan Spiritual
Pendaftaran Program 1.000 Pramudi Mikrotrans Tahap Kedua Dibuka, Baznas DKI Siapkan Pelatihan Komprehensif