Di sisi lain, Starmer punya alasan sendiri. Dia membela keputusan untuk memblokir penggunaan pangkalan Inggris bagi serangan awal AS ke Iran. Bagi Starmer, segala tindakan militer harus punya dasar hukum yang kuat dan perencanaan matang. Itu prinsipnya.
Namun begitu, dia bukan menutup pintu sama sekali. Perdana Menteri itu akhirnya mengizinkan pasukan AS menggunakan fasilitasnya, tapi hanya untuk apa yang dia sebut sebagai serangan defensif. Misalnya, untuk menargetkan gudang atau peluncur rudal milik Iran.
Riwayat ketidakcocokan antara Trump dan Starmer sebenarnya sudah ada. Awal tahun ini, Starmer sempat mengkritik keinginan Trump membeli Greenland. Dia juga menyebut komentar Trump tentang pasukan Eropa yang dianggap menghindari pertempuran di Afghanistan sebagai sesuatu yang "terus terang, sangat mengerikan."
Jadi, situasinya rumit. Ada kapal induk yang disiapkan, ada kritik yang dilayangkan, dan ada hubungan lama yang sedang diuji. Semuanya berlangsung dalam bayang-bayang perang yang belum usai.
Artikel Terkait
Hujan Tak Halangi Pawai Ogoh-Ogoh, Gubernur DKI Ramaikan Festival Nyepi 2026
Kapolri Ajak Ojol Jadi Mitra Kamtibmas, Instruksikan Aplikasi Panic Button
Israel Aktifkan Pertahanan Udara Hadapi Serangan Rudal dari Iran
Bareskrim Gagalkan Peredaran 9 Ton Daging Beku Kadaluarsa Jelang Lebaran