“Ini memang bukan pertarungan yang seimbang, dan tidak dimaksudkan sebagai pertarungan yang seimbang,” kata Hegseth dengan nada keras. “Kami sedang menghantam Iran saat mereka terpuruk. Gelombang yang lebih besar akan datang. Kami baru memulainya.”
Klaim AS ini dibantah oleh Sri Lanka. Juru bicara Angkatan Laut mereka, Budhika Sampath, mengatakan pihaknya hanya menemukan orang-orang terapung dan serpihan minyak. “Kami hanya melihat beberapa sekoci. Tidak ada kapal Iran yang terlihat. Kapal itu sudah tenggelam,” katanya kepada BBC Sinhala. Sampath menegaskan, penyebab tenggelamnya kapal masih diselidiki dan mereka menolak laporan bahwa itu akibat serangan kapal selam.
Konflik yang meluas ini juga menyentuh titik-titik vital ekonomi. Seorang pejabat tinggi Garda Revolusi Iran, Ebrahim Jabbari, mengancam akan “membakar” kapal apa pun yang mencoba melintasi Selat Hormuz. “Mereka pasti akan menghadapi respons serius dari kami,” gertaknya di televisi pemerintah. Ancaman ini bukan main-main, mengingat seperlima pasokan minyak dan gas dunia melewati selat sempit itu.
Ancaman dibalas ancaman. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan “serangan terberat” terhadap Iran “masih akan datang”. Presiden Trump, dalam pidatonya, menyebut keputusannya menyerang Iran sebagai “kesempatan terakhir dan terbaik” untuk menghentikan rezim tersebut.
Di lapangan, dampaknya sudah nyata. Sebuah stasiun CIA di kedutaan AS di Riyadh dilaporkan kena hantam drone. Arab Saudi mengonfirmasi serangan itu menyebabkan kebakaran terbatas dan kerusakan kecil. Citra satelit kemudian menunjukkan kerusakan pada kilang minyak Ras Tanura milik Aramco, meski pihak Saudi menyebut kerusakannya ringan.
Di Lebanon, situasi makin mencekam. Israel membalas serangan roket dari Hizbullah yang menyatakan aksinya sebagai pembalasan atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Khamenei dengan serangan dahsyat yang menewaskan 31 orang. Israel lalu memerintahkan warga di lebih dari 50 desa di Lebanon selatan untuk mengungsi. “Siapa pun yang berada di dekat anggota Hizbullah mempertaruhkan nyawanya,” bunyi peringatan itu. Di Beirut, warga terbangun oleh dentuman ledakan sebelum fajar.
Korban jiwa terus berjatuhan. Di sebuah sekolah perempuan di Minab, Iran, serangan udara menewaskan lebih dari 160 orang kebanyakan anak-anak. Foto-foto pemakaman yang beredar menyiratkan duka yang dalam. Sementara Bulan Sabit Merah Iran mencatat, total korban tewas di negara mereka telah mencapai 787 jiwa.
Konflik ini jelas belum akan berakhir. Dengan ancaman dari kedua belah pihak, dan wilayah yang semakin meluas, dunia hanya bisa menahan napas menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Artikel Terkait
Kepala Lapas Pasir Pangarayan Bantah Pungli Rp5 Juta per Blok untuk Ponsel
Empat Terdakwa Kasus Penghasutan Demo Ricuh 2025 Dinyatakan Bebas Murni
Viking Persib Putuskan Jaga Jarak dari Bonek Usai Insiden di Surabaya
Empat Tewas dalam Kecelakaan Mobil Tabrak Truk di Tol Indrapura-Kisaran