Jenis pakan lain juga ikut turun, meski angkanya bervariasi. Pakan broiler fase pre-starter (BR0) turun Rp82, finisher (BR2) turun Rp89. Sementara untuk ayam petelur, pakan masa produksi (P3) turun Rp86 dan konsentratnya (KP3) turun Rp74.
Namun begitu, fakta di lapangan menunjukkan belum semua produsen ikut menyesuaikan. Dari 87 pabrik pakan unggas di Indonesia, baru sekitar 33 pabrik atau 38 persen yang benar-benar menurunkan harga jualnya.
Fokus ke Bahan Baku Lokal
Di balik penurunan ini, ada upaya efisiensi dari industri. Ketua Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT), Desianto Budi Utomo, menyebut pihaknya terus berkoordinasi dengan pemerintah.
"Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk memastikan ketersediaan bahan baku pakan dengan harga yang lebih kompetitif," tutur Desianto.
Upaya ini sejalan dengan arahan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yang fokus pada penguatan produksi jagung lokal. Visinya jelas: swasembada. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, Amran menyebut Indonesia sudah berhenti impor jagung pakan dan malah mulai mengekspor ke negara seperti Malaysia dan Filipina.
Strategi penguatan hulu ini merupakan bagian dari langkah besar pemerintah untuk menekan harga pangan. Tujuannya, peternak bisa bernapas lega dan pasokan protein hewani dalam negeri tetap terjaga. Perkembangannya patut ditunggu.
Artikel Terkait
Gubernur DKI Pastikan Stok Pangan dan BBM Jakarta Aman Jelang Idul Fitri
Kemnaker Buka Posko Pengaduan THR 2026, Layanan Konsultasi hingga Aduan Online
Program Makan Bergizi Polri Tetap Berjalan di SD Palmerah Selama Ramadan
BMKG Prediksi Kemarau 2026 Lebih Awal, Parah, dan Meluas