Fitch Turunkan Outlook Kredit Indonesia, Pemerintah dan BI Tegaskan Fundamental Masih Kuat

- Jumat, 06 Maret 2026 | 10:45 WIB
Fitch Turunkan Outlook Kredit Indonesia, Pemerintah dan BI Tegaskan Fundamental Masih Kuat

Pertumbuhan itu ditopang penerimaan pajak yang melesat sekitar 30% pada Januari dan Februari. Belanja negara juga naik drastis, mencapai 41,9% di Februari. Stimulus ini, kata pemerintah, dilakukan secara terukur untuk jaga momentum pertumbuhan tanpa mengorbankan kesehatan APBN.

Soal investasi di luar APBN, kolaborasi dengan Badan Pengelola Investasi Danantara akan diperkuat sebagai mesin pertumbuhan baru. Fokusnya pada profit berkelanjutan dan menarik investasi swasta bernilai tinggi. Tata kelolanya dijanjikan akan dijaga kredibilitasnya.

Peringatan dari Pihak Ketiga

Tapi, tidak semua pihak melihatnya dengan optimisme yang sama. Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata, mengingatkan pemerintah untuk waspada. Penurunan outlook oleh Fitch itu bukan main-main. Efek lanjutannya bisa serius.

Menurut Josua, keputusan ini berpotensi mendorong yield Surat Berharga Negara naik. Ujung-ujungnya, beban bunga utang pemerintah bisa membengkak. Meski peringkat 'BBB' dipertahankan, perubahan outlook ini adalah sinyal bahaya soal ketidakpastian kebijakan.

Ruang fiskal saat ini, paparnya, sudah sempit karena penerimaan negara yang lemah dan beban bunga utang yang tinggi. Sentimen negatif sedikit saja bisa langsung mendongkrak biaya pendanaan pemerintah. Kekhawatiran utama Fitch, menurut Josua, adalah risiko pelonggaran disiplin fiskal, terutama terkait wacana revisi UU Keuangan Negara yang bisa mengutak-atik batas defisit 3%.

Dari sisi pasar, sentimen yang rapuh bisa picu arus modal keluar dan melemahkan rupiah. Investor, sebagai kompensasi, akan minta yield SBN lebih tinggi. Pandangan ini sejalan dengan Moody's yang juga menyoroti soal kepastian kebijakan. Masalahnya, yield yang tinggi itu akan membebani APBN lewat belanja bunga.

Dan konsekuensinya langsung terasa.

Jadi, di balik optimisme resmi, ada risiko nyata yang mengintip. Tantangannya adalah bagaimana menyeimbangkan keduanya.

Editor: Yuliana Sari


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar