Jakarta - Saat Ramadhan, godaan untuk langsung menyantap kolak, es sirup, atau kue-kue manis begitu kuat setelah seharian menahan lapar. Memang, tubuh butuh energi cepat. Tapi hati-hati, kalau nafsu ini dibiarkan terus, bisa-bisa kita malah terjebak dalam siklus lapar berulang dan berat badan naik.
Kenapa begitu? Begini penjelasannya. Saat kita langsung mengisi perut kosong dengan gula sederhana, gula darah melonjak drastis. Pankreas pun bekerja keras mengeluarkan insulin untuk menurunkannya. Nah, penurunan ini sering kali terlalu tajam. Hasilnya? Padahal baru saja berbuka, perut sudah keroncongan lagi. Rasanya ingin terus mencari yang manis-manis sepanjang malam.
Menurut sejumlah ahli gizi, pola seperti ini tidak hanya mengacaukan rasa kenyang, tapi juga bikin kita lemas keesokan harinya. Metabolisme jadi terganggu.
Di sisi lain, jangan lupakan faktor lain di luar makanan. Misalnya, kurang tidur. Saat kita kurang istirahat, hormon ghrelin (pemicu lapar) bisa meningkat, sementara leptin (pemberi sinyal kenyang) justru menurun. Akibatnya, keinginan ngemil, terutama yang manis, jadi lebih sulit dikendalikan.
Lalu, bagaimana caranya agar kita bisa menikmati ibadah puasa tanpa jadi 'budak' gula? Kuncinya sebenarnya sederhana: kelola dengan cerdas. Puasa seharusnya jadi momentum untuk mendengarkan tubuh dan membangun kebiasaan makan yang lebih baik.
Artikel Terkait
Riski Permadi Terhenti di Babak Enam Besar Cahaya Muda Indonesia
Menkes Ingatkan Bahaya Sahur dengan Mi Instan Plus Nasi, Bisa Lemas dan Cepat Lapar
Ridho Ardesan Tersingkir dari Cahaya Muda Indonesia, Juri Soroti Kesalahan Materi dan Vokal
Finalis Agil Sulthon Pukau Juri dengan Hafalan Al-Baqarah di Cahaya Muda Indonesia