Lewat sambungan telepon ke NBC, Jumat (6/3/2026) lalu, Donald Trump punya pendapat keras soal kemungkinan mengirim pasukan darat Amerika ke Iran. Menurut Presiden AS itu, ide semacam itu cuma "buang-buang waktu" belaka. Dia dengan santai menepis peringatan keras yang sebelumnya dilontarkan Menlu Iran.
"Itu buang-buang waktu," ujarnya, dikutip AFP. "Mereka sudah kehilangan segalanya. Angkatan laut mereka hilang. Semua yang bisa hilang dari mereka, sudah hilang."
Nada bicaranya terkesan meremehkan. Pernyataan Menlu Iran Abbas Araghchi yang menyebut negaranya siap menghadapi invasi darat dari AS atau Israel, oleh Trump dianggap tak lebih dari "komentar yang sia-sia".
Di sisi lain, Trump rupanya punya agenda lebih jauh. Dia mengisyaratkan keinginannya untuk melihat struktur kepemimpinan Iran yang sekarang disingkirkan. "Kita ingin masuk dan membersihkan semuanya dengan cepat," katanya. Visinya jelas: tidak ingin ada yang membangun kembali kekuatan Iran dalam kurun sepuluh tahun ke depan.
Bahkan, dia mengaku sudah punya usulan figur pemimpin baru untuk Iran. Tapi, soal nama? Trump menolak menyebutkannya. Ini bukan kali pertama dia bicara soal campur tangan dalam suksesi kepemimpinan di Teheran. Sebelumnya, usai serangan gabungan AS-Israel yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei dan memantik konflik sejak Sabtu lalu, Trump menyatakan dirinya "harus terlibat" dalam penunjukan pemimpin Iran berikutnya.
Latar belakang pernyataan panas ini adalah situasi yang memang sedang mencekam. Laporan-laporan menyebut serangan besar-besaran terjadi di Teheran pada Jumat itu. Israel mengklaim menyerang "infrastruktur rezim" Iran sebagai bagian dari "fase baru" perang yang digalang bersama AS.
Namun begitu, pihak Iran sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda gentar. Sehari sebelumnya, tepatnya Kamis (5/3), Menlu Abbas Araghchi sudah memberi sinyal keras dari Teheran. Dalam wawancara eksklusif dengan NBC News, dia dengan tegas membantah anggapan bahwa Iran takut menghadapi invasi darat.
Pesan Araghchi singkat tapi jelas: Iran siap dan percaya diri mempertahankan kedaulatannya. Sebuah peringatan yang langsung dijawab Trump dengan nada yang justru lebih merendahkan.
Artikel Terkait
Kuasa Hukum Bobby: Silakan Laporkan, Kami Tunggu
Polisi Bongkar Lab Vape Berisi Narkoba Etomidate di Tangerang, Sita Barang Senilai Rp 762 Miliar
DPR dan Pemerintah Sepakat Sahkan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga
Drone Serang Lebanon Selatan, Gencatan Senjata 10 Hari Terancam Gagal