Geliat Teknologi dan Pendidikan: Sebuah Laporan
Perdebatan ide selalu jadi ruang subur untuk pembaruan. Dari sanalah inovasi lahir, mentransformasi banyak sektor tak terkecuali pendidikan. Nah, perkembangan teknologi sendiri berjalan begitu masif. Tak bisa lagi dikendalikan, bahkan seringkali kita ketinggalan sebelum sempat menguasainya.
Dinamika teknologi inilah yang kemudian menarik perhatian banyak pihak. Para pemerhati pendidikan, politisi, hingga pejabat pemerintah, seolah dipaksa untuk bergegas. Tujuannya jelas: menyajikan "hidangan" yang tak cuma enak, tapi juga bergizi. Ini semua demi menyiapkan Sumber Daya Manusia yang unggul dan kompetitif di masa depan.
Menurut sejumlah saksi, sinergi dengan perubahan teknologi mutlak diperlukan. Dunia pendidikan kita kini ada di era industri 4.0, sedang melangkah ke society 5.0. Ada banyak terobosan yang, sejatinya, dampaknya harus benar-benar dirasakan oleh semua lapisan masyarakat. Dengan kemajuan teknologi, setidaknya kita jadi mengenal berbagai alat tukar dan cara transaksi baru.
Sebuah kajian dari TNP2K (Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan) pernah membandingkan beberapa teknologi otentikasi. Mereka menguji kartu debit, biometrik wajah, sidik jari, SMS/e-voucher, hingga QR code. Indikatornya beragam, mulai dari infrastruktur, risiko transaksi, perubahan perilaku, sampai proses registrasi.
Dari situ, wacana teknologi otentikasi ini seharusnya menyentuh semua pemangku kepentingan. Sikap dan perilaku kita terhadap transaksi digital harus menyesuaikan dengan perkembangannya. Salah satu yang kerap disebut adalah Teknologi Blockchain.
Teknologi ini awalnya populer lewat cryptocurrency. Prinsipnya memungkinkan transaksi peer-to-peer yang aman, tanpa perlu perantara seperti bank. Cukup revolusioner, bukan?
Namun begitu, blockchain ternyata tak cuma untuk mata uang kripto. Perlahan, ia berkembang dan diterapkan di banyak sektor lain: keuangan, pemerintahan, bahkan pendidikan. Ia dianggap sebagai terobosan baru yang bisa mendorong perubahan besar. Karena itu, respons pemerintah terhadap potensi disrupsinya sangat dinantikan.
Armai Arief, salah satu pengamat, punya pandangan menarik.
Inilah yang disebut sebagai pembaruan, dengan menekankan aspek tata kelola. Perbedaannya dengan sektor bisnis cukup jelas. Kalau di bisnis blockchain mengarah ke crypto, di pendidikan ia lebih ke basis penyimpanan data yang terdesentralisasi.
Artikel Terkait
Korban Tewas Bencana Sumatera Tembus 1.177 Jiwa, 148 Masih Dicari
Rizieq Sindir Slank: Dulu Puja Raja Bohong, Kini Kritik Lewat Lagu
Serda TNI AL Ditahan Usai Aniaya Warga hingga Tewas di Depok
KPK Tahan Penetapan Tersangka, Tunggu Hitung-hitungan BPK Soal Kerugian Kuota Haji