Ada beberapa catatan penting untuk pemerintah. Pertama, lakukan pengkajian mendalam dengan melibatkan para pakar dari berbagai bidang. Kedua, terbitkan kebijakan yang mengakui kebermanfaatan teknologi ini bagi banyak sektor. Ketiga, instansi pendidikan pemerintah perlu duduk bersama merumuskan kurikulum atau mata kuliah yang relevan. Keempat, siapkan tahapan implementasi yang matang, mulai dari perguruan tinggi hingga mungkin sekolah menengah.
Catatan-catatan itu diharapkan bisa jadi legitimasi awal. Tujuannya untuk mempercepat terobosan teknologi di bidang pendidikan. Selama ini, blockchain kerap diidentikkan dengan cryptocurrency yang penuh spekulasi dan perdebatan, bahkan di kalangan ulama. Kita butuh titik temu dan kepastian hukum.
Tapi bagi dunia pendidikan, penerapannya mungkin tak serumit itu. Dari sisi tata kelola, blockchain justru menjanjikan dampak positif yang besar. Terutama untuk memodifikasi manajemen dan penyimpanan basis data.
Harapannya jelas: meningkatkan keamanan dan efisiensi bagi lembaga pendidikan serta semua stakeholdernya guru, siswa, dan tenaga kependidikan.
Potensi blockchain terletak pada kemampuannya menjamin identitas, privasi, dan keamanan data. Teknologi ini berdiri di atas tiga pilar utama. Pertama, desentralisasi. Ini memberi kewenangan lebih pada daerah untuk mencatat dan memfasilitasi urusan pendidikannya sendiri. Kedua, transparansi. Pengelolaan data yang terbuka memungkinkan pengawasan di mana saja dan kapan saja. Ketiga, kekal. Data yang tervalidasi menjadi rekam jejak yang aman, sulit dipalsukan, dan mudah ditelusuri.
Lalu, apa sasaran utamanya di pendidikan? Tiga hal: pengelolaan administrasi, manajemen keuangan lembaga, dan program penunjang kegiatan.
Dengan begini, blockchain bisa melahirkan berbagai indikator berbasis data dan informasi yang menunjang keberlangsungan pendidikan di Indonesia. Kalau di luar negeri sektor bisnis dan perbankan sudah memakainya, kenapa kita tidak mencoba mengunggulkannya di sektor pendidikan?
Ali bin Abi Thalib pernah berpesan: "Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya." Pesan ini relevan. Indonesia harus berani unggul dalam teknologi, tanpa serta merta meninggalkan nilai-nilai konvensional yang baik.
Semoga inisiatif pendirian Institut Teknologi Blockchain oleh YPBM bersama ISMI bisa segera terealisasi. Manfaatnya untuk generasi muda sangat besar, demi menyongsong Indonesia yang lebih maju dan bersatu.
Artikel Terkait
Polisi Bantah Isu Blokade Jalan Sudirman Bandung, Sebut Hanya Rekayasa Lalin
Tompi dan Mahakarya Banyak Upaya di Tengah Bencana
Janji Donatur Sirna, Masjid di Gunungkidul Tinggal Reruntuhan
Fadli Zon Bantah Tudingan Militeristik, Sebut Kepemimpinan Prabowo Jalan Beradab