"Yang khawatir berkaitan dengan penutupan Selat Hormuz harus menanyakan kepada Amerika Serikat," tandas Boroujerdi. "Mereka yang datang dari jauh ke Timur Tengah dan kemudian mengganggu keamanan."
Latar belakang pernyataan ini tentu saja panas. Sepekan sebelumnya, Korps Garda Revolusi Iran sempat mengancam akan menutup selat itu. Itu adalah respons atas serangan gabungan AS dan Israel yang mengguncang Teheran pada akhir Februari, sebuah serangan yang disebut-sebut menewaskan sejumlah tokoh penting, termasuk pemimpin tertinggi mereka.
Gelombang ketegangan ini ternyata sampai juga ke Indonesia. Dampaknya langsung terasa: dua kapal tanker milik Pertamina International Shipping (PIS) dilaporkan tertahan di sekitar Teluk Persia. Keduanya adalah Pertamina Pride dan Gamsunoro, yang sedang dalam proses pengisian minyak di Arab Saudi dan Irak.
Merespons hal ini, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengaku pemerintah sedang berupaya keras. "Ada dua kapal kargo Pertamina yang tertahan di Selat Hormuz," kata Bahlil, Rabu malam. "Kapal-kapal tersebut saat ini berlabuh di lokasi yang lebih aman sambil menunggu proses negosiasi."
Jadi, di satu sisi ada jaminan bahwa selat itu masih terbuka dengan syarat. Di sisi lain, realitas di lapangan menunjukkan bahwa kapal-kapal bisa saja terjebak, menunggu kepastian di tengah air yang tak lagi tenang.
Artikel Terkait
Organisasi Kepemudaan Golkar dan UMNO Malaysia Perkuat Kerja Sama, Respons Ketegangan Timur Tengah
Komisi III DPR Gelar RDPU Kasus Nabilah Obrien, Korban Laporan yang Jadi Tersangka
Wakil Ketua MPR: Ketergantungan Migas RI pada Timur Tengah Hanya 20 Persen
FPI Desak Prabowo Tarik Indonesia dari Board of Peace, Presiden Beri Sinyal Pertimbangkan