Di tengah ketegangan yang memuncak di Timur Tengah, Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, tampil dengan pernyataan yang ingin menenangkan. Ia menegaskan bahwa Selat Hormuz jalur air yang sangat vital itu tidak ditutup. "Selat Hormuz tidak ditutup," ujarnya dengan tegas. "Selat Hormuz tetap terbuka, dan kami hanya sebagai pihak yang menyelenggarakan keamanan."
Pernyataan itu disampaikan Boroujerdi di kediamannya di Jakarta, Kamis lalu. Menurutnya, yang berlaku hanyalah protokol keamanan khusus, semacam aturan lalu lintas yang biasa diberlakukan dalam situasi perang. Ia berargumen, kapal-kapal yang bersedia mematuhi protokol itu tak akan menemui kesulitan.
"Di selat ini hanya diberlakukan protokol lalu lintas yang khusus untuk saat-saat perang," jelasnya. "Pihak-pihak yang mematuhi protokol tersebut bisa dengan mudah melewati Selat Hormuz."
Boroujerdi lantas menekankan peran historis Iran. Katanya, negaranya telah menjadi penjaga stabilitas di selat itu selama ratusan tahun. Keamanan yang disebarluaskan itu, lanjutnya, harus berlaku untuk semua pihak tanpa kecuali. Tidak boleh ada negara yang mengambil keuntungan sepihak.
Namun begitu, sang Duta Besar tak menyembunyikan siapa yang dianggapnya sebagai biang kerok. Sumber ketegangan dan kekhawatiran, menurutnya, justru datang dari kehadiran Amerika Serikat di kawasan.
Artikel Terkait
Organisasi Kepemudaan Golkar dan UMNO Malaysia Perkuat Kerja Sama, Respons Ketegangan Timur Tengah
Komisi III DPR Gelar RDPU Kasus Nabilah Obrien, Korban Laporan yang Jadi Tersangka
Wakil Ketua MPR: Ketergantungan Migas RI pada Timur Tengah Hanya 20 Persen
FPI Desak Prabowo Tarik Indonesia dari Board of Peace, Presiden Beri Sinyal Pertimbangkan