Kembali, kisah hidup Abdurrahman bin Auf mengingatkan kita tentang arti sebenarnya dari kekayaan. Sosok sahabat Nabi yang satu ini bukan sekadar pedagang ulung. Di balik kesuksesan materinya, justru ada kegelisahan yang mendalam takut jika harta dunia malah menjadi penghalang di akhirat nanti. Ustaz Das'ad Latif menguraikannya dengan cukup menarik.
Semuanya berawal dari hijrah. Saat meninggalkan Makkah dan tiba di Madinah, Abdurrahman disambut dengan tangan terbuka oleh kaum Anshar. Mereka tak segan menawarkan rumah bahkan harta. Tapi, pria ini punya prinsip. Daripada menerima pemberian, ia lebih memilih ditunjukkan jalan ke pasar. Itulah modal awalnya.
Dari sana, kerja kerasnya membuahkan hasil yang luar biasa. Usaha kecilnya pelan-pelan berkembang, hingga akhirnya namanya dikenal sebagai salah satu saudagar paling sukses di zamannya. Namun, kemewahan itu tidak serta-merta membuatnya lupa diri.
Ada satu momen yang cukup menyentuh. Konon, di suatu kesempatan, saat hendak menyantap hidangan lezat di depannya, tiba-tiba air matanya berlinang. Pikirannya melayang kepada Rasulullah SAW, yang dulu kerap menahan lapar berjam-jam karena tak ada sesuap pun makanan. Bayangan itu begitu menghantuinya.
Artikel Terkait
Polri Serahkan Rp 58,1 Miliar Hasil Sitaan Judi Online ke Negara
Akulaku Finance Catat Laba Bersih Melonjak 66% Didorong Layanan Paylater
Presiden Prabowo Gelar Buka Puasa dan Hormati Ulama di Istana
PSIM Fokus Hindari Degradasi Usai Imbang Lawan Semen Padang