Fair Work Ombudsman (FWO) Australia sedang berhadapan dengan pengadilan. Lembaga ini menggugat seorang pengusaha restoran di Sydney yang dituduh tega membayar puluhan pekerja migran dengan upah yang jauh dari standar. Total uang yang tak dibayarkan itu mencapai lebih dari 162 ribu dolar Australia, atau sekitar Rp1,7 miliar.
Pengusaha itu bernama Katsuyoshi "Ken" Sadamatsu. Dia adalah salah satu pemilik sekaligus pengelola restoran Jepang Miso World Square di kawasan Haymarket, Liverpool Street.
Restoran itu sendiri sudah tutup. Perusahaannya, Miso Pty Ltd, dilikuidasi tahun 2024, dan akhirnya bubar di awal 2025. Namun begitu, masalahnya justru baru mencuat ke permukaan setelah FWO melakukan audit kepatuhan di sana.
Tarif Datar yang Merugikan
Hasil penyelidikan FWO cukup mencengangkan. Sadamatsu diduga membayar para pekerjanya dengan tarif datar, cuma 19 sampai 27 dolar Australia per jam. Padahal, aturan Restaurant Industry Award 2020 jelas mewajibkan pembayaran lebih tinggi untuk lembur, kerja akhir pekan, dan hari libur.
Itu belum semuanya. FWO juga menemukan dugaan pelanggaran lain: tak membayar tunjangan shift terpisah, tak mencairkan sisa cuti tahunan saat pemutusan kerja, plus masalah pencatatan dan administrasi yang amburadul.
Kerugian yang dialami tiap pekerja pun beragam. Ada yang cuma seratus dolar, tapi ada juga yang rugi besar, hingga 19 ribu dolar Australia. Salah satu pekerja, misalnya, cuma dibayar 22 dolar per jam secara flat. Padahal, seharusnya dia mendapat 32 dolar untuk lembur, 27 dolar untuk kerja hari Sabtu, dan bahkan 48 dolar per jam di hari libur nasional.
Pekerja Muda dan Migran yang Jadi Sasaran
Secara keseluruhan, ada 82 pekerja yang diduga menjadi korban antara pertengahan 2020 hingga akhir 2022. Mereka umumnya bekerja sebagai koki, staf dapur, atau pelayan. Kebanyakan berasal dari negara-negara Asia, seperti Thailand, Indonesia, dan Jepang.
Yang memprihatinkan, 36 di antaranya adalah pekerja muda, berusia 19 hingga 24 tahun saat kejadian.
Menurut FWO, pelanggaran ini dilakukan secara sengaja dan sistematis. Makanya, kasusnya digolongkan sebagai "serious contraventions" atau pelanggaran serius. Konsekuensinya berat: pengadilan bisa menjatuhkan denda maksimal sepuluh kali lipat dari ketentuan biasa.
Bukan Kali Pertama
Ini ternyata bukan catatan pertama Sadamatsu. Perusahaan miliknya dan keluarganya pernah berurusan dengan FWO pada 2011 silam. Kala itu, mereka menandatangani perjanjian khusus setelah ketahuan tak membayar 679 ribu dolar Australia kepada 180 pekerja di empat restoran berbeda di Sydney.
Artikel Terkait
AS-Israel Serang Iran, Perluasan Konflik Ancam Stabilitas Timur Tengah
Presiden Prabowo Putuskan Nuzulul Quran Digelar di Istana Negara
Dubes Iran Tolak Mediasi Indonesia, Sebut Tak Ada Ruang Negosiasi dengan AS
Pemerintah Rencanakan Batas Usia 16 Tahun untuk Akses Media Sosial Mulai 2026